BNPB Laporkan Tambahan 7 Bencana Baru di Indonesia: Karhutla, Banjir, hingga Cuaca Ekstrem

Posted on

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data mutakhir terkait kemunculan tujuh peristiwa bencana baru di berbagai pelosok tanah air hingga hari Selasa (3/11/2026). Rangkaian musibah anyar tersebut mencakup insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana luapan banjir, hingga terjangan cuaca ekstrem.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan bahwa akumulasi dari penambahan tujuh insiden baru tersebut kini mendorong total keseluruhan bencana alam sepanjang tahun kalender 2026 menembus angka 2.285 peristiwa di seluruh Indonesia.

"Total kejadian bencana alam di Indonesia meningkat sebanyak 7 kejadian hari ini dapat kami sampaikan 2 November 2026 kejadian yang kami catat kemarin," ungkap Berton dalam rangkaian sesi konferensi pers resmi di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Berton kemudian memaparkan rincian wilayah kejadian, di mana dua titik karhutla teridentifikasi membakar kawasan di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, serta Kabupaten Klaten yang berada di Jawa Tengah.

Di samping kasus kebakaran lahan tersebut, tercatat pula empat bencana banjir bandang dan luapan air yang menggenangi area Kabupaten Deli Serdang di Sumatra Utara; Kabupaten Lumajang beserta Kabupaten Malang di Jawa Timur; dan menyasar Kabupaten Pidie Jaya di Provinsi Aceh.

Sementara itu, satu kejadian lainnya terkonfirmasi akibat terpaan fenomena cuaca ekstrem yang menerjang Kabupaten Dairi, wilayah Sumatra Utara.

Enam Provinsi Jadi Prioritas Penanganan Karhutla

Berton menerangkan lebih jauh bahwa hingga saat ini otoritas telah menetapkan enam wilayah provinsi strategis yang diposisikan sebagai target prioritas penanggulangan serta pemadaman karhutla terpadu. Dinamika luasan hamparan lahan yang terdampak kobaran api di beberapa area tersebut tercatat mengalami fluktuasi yang bervariasi.

Untuk wilayah Papua Selatan, cakupan area lahan terdampak dilaporkan seluas 455 hektare atau tercatat mengalami penurunan sekitar 25 persen. Sebaliknya, wilayah Kalimantan Tengah justru mendapati luasannya meluas hingga 547 hektare dengan kenaikan tajam mencapai 56 persen, sementara kawasan Kalimantan Timur menyentuh 60 hektare atau melonjak drastis sebesar 80 persen.

Beralih ke kawasan Nusa Tenggara Timur, angka persentase lahan terbakar dilaporkan menyusut menyisakan 14 persen. Kemudian di Sulawesi Tenggara luasan tercatat pada nomor 91 hektare, sedangkan wilayah Sulawesi Tengah terdata mencapai luasan 89 hektare atau berhasil mengalami penyusutan sebanyak 4 persen.

Berton menguraikan, curahan rintik hujan lebat yang mengguyur sebagian wilayah Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Timur beberapa waktu ke belakang sama sekali belum meniadakan ancaman karhutla secara menyeluruh. Hal ini terjadi lantaran kontur tanah di daerah-daerah tersebut didominasi oleh formasi lahan gambut tebal yang kerap menyimpan bara api aktif di bawah permukaan tanah.

"Namun mengingat adanya gambut, lahan tersebut adalah lahan gambut sehingga titik api yang ada di permukaan sudah padam. Namun demikian di bawah permukaan bara masih ada sehingga sangat berpotensi terjadi kebakaran hutan baru," ucap dia secara mendalam.

Guna memaksimalkan upaya penanganan dan mitigasi karhutla di lapangan, institusi BNPB secara konsisten menyiagakan kekuatan armada udara sebanyak 51 unit gabungan pesawat terbang beserta helikopter. Alokasi armada ini dibagi menjadi 30 unit pesawat khusus operasi pengeboman air (water bombing) serta 21 armada udara tambahan untuk kebutuhan pemantauan patroli maupun pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Dan 51 unit ini juga kami senantiasa siagakan di beberapa provinsi serta kami melakukan operasi modifikasi cuaca atau pun waterbombing ketika memang memungkinkan kami lakukan, dari antara 51 ini ada 30 untuk waterbombing dan 21 untuk patroli maupun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)," jelas Berton panjang lebar.

OMC Digelar di Tiga Provinsi

Lembaga BNPB pun secara terencana menyelenggarakan agenda Operasi Modifikasi Cuaca intensif di tiga provinsi terdampak, meliputi wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta kawasan Sumatra Selatan.

Di area Kalimantan Tengah, rekayasa cuaca OMC dihelat sebanyak enam sortie penerbangan dengan menaburkan muatan material sebanyak 10.600 kilogram campuran dry ice dan serbuk natrium klorida (NaCl). Berkat upaya tersebut, BNPB menerima konfirmasi turunnya hujan lebat di Palangka Raya, Sukamara, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, Gunung Mas, hingga zona cagar alam Taman Nasional Tanjung Puting.

Sementara pada wilayah Kalimantan Selatan, program OMC dijalankan dalam dua sortie penerbangan udara melalui pelepasan 1.800 kilogram bahan semai NaCl. Laporan presipitasi hujan alami berhasil teramati mengguyur kawasan Banjarbaru, Kota Banjarmasin, Tanah Laut, serta area Tanah Bumbu.

Pada teritori Sumatra Selatan, tim BNPB berhasil menuntaskan empat sortie misi penerbangan udara dengan mengaburkan taburan 5.600 kilogram NaCl. Fenomena hujan terpantau berhasil membasahi daratan Palembang, Muara Padang, dan wilayah Banyuasin.

Dengan perolehan capaian misi tersebut, kalkulasi kumulatif materi semai NaCl dan dry ice yang disebarkan dalam rangka misi OMC pada ketiga provinsi sentral tersebut menyentuh angka 19.500 kilogram.

Selain itu, regu BNPB juga mengeksekusi misi OMC di daerah Papua Selatan. Berton mengonfirmasi bahwa sebanyak 20.000 kilogram senyawa garam NaCl telah disemai tuntas mengandalkan total 20 sortie penerbangan pesawat.

"Sedangkan untuk hotspot yang ada di Papua Selatan kami bisa sampaikan secara total kami sudah menyebarkan 20.000 kg NACL. Itu menggunakan 20 sorti dan bisa kami sampaikan 1 atau 2 sorti setiap hari kami menyebarkan garam tersebut tergantung kondisi pertumbuhan awan," tutur Berton.

Berton menilai, pembentukan kumpulan awan potensial di area tengah dan sektor utara Papua Selatan terpantau cukup tebal sehingga memungkinkan realisasi OMC secara optimal. Kendati demikian, kegiatan intervensi cuaca belum mampu digelar di belahan selatan lantaran kelangkaan bibit awan pembawa partikel air.

"Sedangkan bagian selatan karena sulitnya mendapatkan bibit-bibit air sehingga kami belum bisa melaksanakan omisi di wilayah bagian selatan di Papua Selatan. Sedangkan pertumbuhan titik spot yang kami lihat ada di bagian timur maupun bagian selatan," pungkas Berton.

Simak terus update kabar berita terhangat, terpercaya, dan faktual selengkapnya di saluran kanal Berita Liputan6.

Langkah BNPB Antisipasi Bencana Jelang Musim Hujan

BNPB Ingatkan Ancaman Banjir Usai Kebakaran Hutan

BNPB Catat Luas Karhutla Menurun, Papua Selatan Masih Jadi Perhatian