Tingginya pengeluaran harian dan lonjakan tarif hunian membuat para pendidik di Milan kepayahan untuk bertahan, mengingat pemasukan bulanan mereka bernilai setara dengan wilayah lain di Italia.
Kota Milan di Italia kini didera kelangkaan tenaga pengajar karena melesatnya beban biaya hidup, terutama sewa tempat tinggal. Sementara itu, pendapatan para guru dipatok setara secara nasional tanpa tambahan insentif wilayah bagi mereka yang mengabdi di kawasan termahal seantero Italia tersebut.
Berdasarkan laporan lembaga konsultan pendidikan Docenti.it, upah pengajar di Italia berada di rentang 1.350 sampai 2.000 euro per bulan. Pada saat bersamaan, data situs properti Idealista mencatat tarif sewa satu kamar di Milan rata-rata menyentuh angka 700 euro tiap bulannya. Realitas ini menempatkan guru di Milan pada besaran penghasilan serupa dengan rekan sejawat mereka di pelosok pedesaan wilayah selatan Italia.
Giovanni Pavesi (43), pengajar mata pelajaran musik, menuturkan bahwa tarif sewa hunian yang mencekik merupakan rintangan terbesar, khususnya untuk kalangan pendidik pemula. Fenomena tersebut ikut memicu perputaran staf pengajar yang sangat tinggi pada institusi pendidikan. Serikat buruh CISL melaporkan terdapat sekitar 4.300 formasi guru terbuka di kawasan metropolitan Milan menyongsong tahun ajaran anyar, menempati urutan teratas di Italia dari keseluruhan 37.000 lowongan secara nasional. Kendati demikian, sekitar dua puluh persen kuota tersebut tetap belum memiliki tenaga pengajar.
Beban finansial yang berat menyebabkan banyak tenaga pendidik enggan mendaftar di Milan, bahkan sebagian memilih meminta relokasi tugas setelah sempat diterima. Massimiliano Matteri (49), pengampu pelajaran sejarah dan sastra Italia, adalah contoh nyatanya. Usai tiga warsa bertahan di sebuah apartemen tipe studio yang sesak di kawasan pinggiran Milan, ia memutuskan boyong ke Livorno di pesisir Tuscany, membeli kediaman yang jauh lebih layak, serta menikmati stabilitas ekonomi yang membaik.
Krisis pembiayaan harian ini sejatinya memotret problematika sistemik di Italia, yakni mandeknya pertumbuhan upah yang menjelma tantangan berat untuk rezim Perdana Menteri Giorgia Meloni mendekati pesta demokrasi nasional tahun depan. Catatan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menggarisbawahi bahwa gaji riil Italia pasca penyesuaian inflasi sekarang justru merosot melampaui kondisi tahun 1990. Italia menjadi negara tunggal dari 20 lebih negara industri maju yang mencatatkan degradasi upah tersebut.
Kajian dari Eurostat turut memaparkan kemerosotan kemampuan belanja terparah di Uni Eropa dialami oleh Italia selama periode lima tahun belakangan. Situasi ini mengobarkan seruan unjuk rasa dan mogok kerja yang dimotori serikat buruh USB di aneka penjuru Italia pada Jumat (30/10/2026). Gerakan protes ini dipicu penolakan atas meroketnya harga kebutuhan, minimnya upah pekerja, serta memburuknya kualitas fasilitas publik.
Kekesalan publik mengenai mahalnya pengeluaran hidup bahkan sempat berujung pada bentrokan di jalanan Milan bulan ini. Kelompok-kelompok massa yang didominasi generasi muda merusak kaca bangunan, menjarah gerai pertokoan, serta melancarkan serangan terhadap aparat kepolisian.
