Biaya BBM Melambung Tinggi, Kapal Pesiar Mewah Terlantar di Kamboja dan Turunkan Penumpang

Posted on

Kapal pesiar mewah Villa Vie Odyssey tertahan usai pihak operator menyetop operasional sementara lantaran meroketnya tarif bahan bakar. Situasi ini membuat para turis telantar tanpa kepastian arah.

Kapal pesiar megah Villa Vie Odyssey terdampar di Kamboja lantaran pihak pengelola membekukan aktivitas pelayaran imbas lonjakan harga bahan bakar (BBM), Rabu (28/10/2026). Korporasi asal Amerika Serikat (AS) tersebut kini berusaha merancang penanganan dampak diturunkannya ratusan pelancong yang terlunta-lunta, sekaligus menyiapkan tempat tinggal sementara untuk seluruh pelancong.

Armada laut yang sedang melakoni agenda ekspedisi keliling dunia multitahun tersebut mewajibkan penumpangnya meninggalkan dek di Sihanoukville, sebuah kawasan pelabuhan Kamboja. Rombongan pelancong saat ini menetap di beberapa penginapan sembari menanti kejelasan perihal kelanjutan agenda pelayaran mereka.

Total pasti pelancong di atas kapal saat aktivitas ditangguhkan belum terdata gamblang. Kendati begitu, kapal berdimensi panjang nyaris 200 meter ini berkapasitas angkut mencapai 650 orang. Villa Vie Odyssey awalnya berlayar dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024 demi menuntaskan rute keliling bumi selama kurang lebih 3,5 tahun. Merujuk laman resmi korporasi, rute penjelajahan dirancang menyambangi nyaris 150 negara.

"Mereka kehabisan dana untuk membeli bahan bakar. Akibatnya, mereka menyuruh kami semua beranjak turun. Manajemen tengah berikhtiar menghimpun modal supaya dapat bertolak ke dermaga selanjutnya, tetapi tak ada pihak yang bersedia menyuntikkan dana. Karena kapal tak beranjak, kami disuruh keluar," tutur Steve Skulnich.

"Masalah terbesarnya yakni banyak pelancong kehilangan arah pulang. Kapal ini sudah menjadi tempat tinggal mereka. Mereka menanamkan seluruh tabungan, melepas aset rumah di Amerika Serikat, Australia, atau daerah asal masing-masing, dan kini terlunta-lunta tanpa tujuan," ungkap penumpang bernama Russ Borman.