Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan persenjataan terkemuka asal Amerika Serikat (AS), Lockheed Martin, akhirnya membeberkan informasi mengenai persenjataan udara-ke-udara modern yang dirancang khusus guna meredam potensi ancaman militer China. Pengumuman ini beriringan dengan tercapainya kesepakatan mutakhir bersama Pentagon demi memacu kapasitas perakitan seiring langkah militer memperkuat kembali cadangan amunisinya.
Melansir laporan Reuters pada Jumat (18/9/2026), amunisi berdaya hancur tinggi berkode AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM) ini sebenarnya telah melewati fase riset amat tertutup selama bertahun-tahun. Kehadiran persenjataan ini menjadi respons strategis angkatan bersenjata Washington terhadap kapabilitas udara jarak jauh Beijing yang semakin canggih, sekaligus menambal menipisnya logistik militer Negeri Paman Sam usai gempuran terhadap Iran.
Manajemen Lockheed menyatakan bahwa proyektil mutakhir ini menyuguhkan radius jelajah serta efektivitas bertarung yang jauh melampaui peluru kendali udara konvensional saat ini, memberikan keunggulan mutlak ketika bersua pesawat tempur utama Beijing seperti J-20. Sesuai agenda, AIM-260 bakal disematkan pada jajaran armada siluman superioritas udara AS, yaitu F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.
Presiden Pengendali Tembakan dan Rudal Lockheed Martin, Tim Cahill, menegaskan status JATM sebagai pilar krusial bagi keunggulan udara militer Washington saat ini.
"JATM adalah salah satu kemampuan dominasi udara terpenting bangsa kita, tetapi karena sifat rahasia dari program ini, ini juga merupakan cerita yang belum dapat kami ceritakan," terangnya.
Dirinya juga mengungkapkan kebanggaan mendalam lantaran kini proyek pertahanan berskala masif tersebut akhirnya dapat diumumkan kepada publik secara terbuka.
"Kami bangga akhirnya dapat berbicara tentang pekerjaan luar biasa di balik rudal ini dan bagaimana kami bekerja sama dengan pemerintah AS untuk meningkatkan produksi secara cepat," jelas Cahill menambahkan.
Keberadaan fisik dari alutsista anyar ini sejatinya sempat terendus pada Mei silam. Pihak Australia sendiri telah merilis komitmen resmi guna meminang persenjataan JATM senilai US$ 521 juta atau sekitar Rp 9,16 triliun, kendati jumlah unit pesanan beserta banderol per rudal masih ditutup rapat.
Pakta kerangka kerja terkini tersebut membentuk landasan regulasi bagi perjanjian pembelian kontrak multitahun untuk mengokohkan ekosistem sektor manufaktur pertahanan program JATM. Bersamaan dengan itu, Lockheed menegaskan siap mengucurkan modal investasi mandiri guna melipatgandakan volume hasil pabrikasi berdasarkan klausul kesepakatan tersebut.
