Jakarta, CNBC Indonesia – Sektor industri makanan serta minuman di tanah air mulai merasakan guncangan beban operasional manufaktur mendekati penutupan tahun 2026. Penurunan nilai tukar mata uang garuda di pasar valas menjadi salah satu faktor risiko utama yang patut dicermati, mengingat tingginya ketergantungan para produsen lokal terhadap pasokan bahan mentah dari luar negeri.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia, disingkat GAPMMI, Adhi S. Lukman, menyampaikan bahwa fluktuasi rupiah yang sulit ditebak menghadirkan kerumitan tersendiri untuk kalangan pebisnis. Keadaan ini kian memprihatinkan lantaran terdongkraknya tarif ekspedisi kargo global yang langsung memicu lonjakan ongkos rantai suplai korporasi.
"Ya memang rupiah ini mengkhawatirkan, karena kita tidak tahu sampai seberapa. Ini yang paling penting, karena bagi industri kepastian ini menjadi penting. Oleh sebab itu, kita sangat berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas, bersama BI untuk menjaga stabilitas. Karena terus terang kita harus akui bahwa bahan baku kita masih banyak yang impor. Meskipun kita tidak ingin impor, tapi ternyata sebagian tidak bisa," tutur Adhi pada agenda Media Gathering Forum Wartawan Industri atau Forwin bertempat di Sentul, Jumat (6/11/26).
Hambatan finansial nyatanya tidak semata bersumber dari pergerakan kurs valuta asing saja. Akses pengangkutan komoditas antarnegara pun mengalami lonjakan tarif pengapalan yang sangat besar, termasuk trayek-trayek perkapalan yang tempo hari lazimnya memasang tarif ekonomis bagi pelaku usaha.
"Belum masalah logistik dan lain sebagainya. Sampai sekarang ke beberapa negara masih sangat mahal sekali. Kemarin kami diskusi dengan beberapa buyer dari Australia, sekarang ke Australia saja yang biasanya cuma US$1.000, sekarang US$3.000 per kontainer. Yang ke China biasanya cuma US$200-300, sekarang bisa US$700-800. Kalau ke yang jauh-jauh, ke Timur Tengah lebih berat lagi," papar dirinya membeberkan perbandingan beban angkut.
Lonjakan tarif tersebut memaksa jajaran manajemen pabrikan memutar otak guna merombak skema pengadaan inventaris. Beberapa opsi kini mulai dipelajari secara serius, antara lain memilih rute alternatif armada pelayaran hingga mencari sumber negara eksportir bahan baku pengganti yang stoknya dinilai masih memadai.
"Ya, tentunya kita mencari alternatif. Alternatif termasuk misalnya ke Timur Tengah itu alternatif logistik. Kemudian alternatif bahan baku yang dari beberapa negara yang terhambat dan lain sebagainya. Ini yang sedang kita cari. Sebetulnya paling bagus kalau dalam negeri bisa memenuhi, sehingga kita akan lebih mudah untuk mengelolanya. Tapi ini perlu strategi jangka panjang," urai Adhi merinci rencana penyesuaian.
Bagi korporasi berkapitalisasi besar, gempuran biaya ekstra tersebut diprediksi masih sanggup diredam dalam jangka pendek. Cukup banyak entitas manufaktur skala besar masih terikat perjanjian kontrak lama serta menyimpan cadangan material dan barang siap edar untuk menjaga kesinambungan lini produksi.
"Perusahaan menengah-besar punya daya tahan industri yang lumayan cukup, sehingga masih ada yang punya kontrak lama, ada yang masih punya stok bahan baku dan produk jadi. Kenaikan kemungkinan akan terjadi di awal tahun. Kalau saya lihat industri mamin itu rata-rata sekitar 5-6%. Itu pun sudah cukup tinggi karena konsumen sangat price sensitive," bebernya memprediksi proyeksi penyesuaian banderol dagang.
Kondisi yang jauh lebih rumit justru membayangi para pelaku industri kecil dan menengah atau IKM. Sangat kontras dengan pabrikan raksasa, unit usaha berskala mikro kebanyakan tak dibekali fasilitas gudang memadai ataupun likuiditas modal untuk memborong persediaan bahan baku jangka panjang.
Konsekuensi dari situasi pelik tersebut bakal langsung dirasakan khalayak pembeli lewat lonjakan harga eceran maupun penyusutan takaran kemasan di pasaran. Melambungnya harga material kemasan plastik kian menambah deretan beban, walaupun kuantitas pasokannya sekarang masih dirasa aman.
"Teman-teman kita yang IKM ini yang berat, karena daya tahannya sangat rentan. Bahkan ada home industry yang punya stok hanya 1-2 hari, ada yang seminggu. Mau tidak mau begitu bahan baku habis, mereka akan kesulitan. Sehingga kalau tidak naik harga, ya mengurangi ukuran. Seperti industri tempe, kalau dulu beli tempe besar, sekarang mulai kecil. Nah, inilah yang harus kita antisipasi," tutup Adhi mengakhiri penjelasannya.
