Beban Biaya Hidup dan Jeratan Judi Online Bayangi Masa Depan Kursi Presiden Lula

Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Meroketnya pengeluaran kebutuhan pokok masyarakat kini menjadi penghalang paling berat bagi Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, dalam menghadapi pemilihan umum mendatang. Padahal, otoritas pemerintah terus menegaskan bahwa serangkaian indikator ekonomi makro memperlihatkan tren positif, namun puluhan juta warga justru mengaku tetap terbebani tingginya ongkos kehidupan harian.

Pengalaman pahit tersebut dirasakan langsung oleh Kleyton Zacarioto (39), seorang karyawan gerai daging di kawasan bersejarah pusat kota Sao Paulo. Pria ini menceritakan bahwa angka pembeli di tempat kerjanya terus anjlok secara signifikan selama beberapa tahun terakhir lantaran lonjakan harga sembako yang tak kunjung mereda.

Situasi finansial keluarga yang kian tertekan memicu Zacarioto untuk membulatkan tekad tidak akan mencoblos Lula demi mengamankan periode kekuasaan keempatnya. Kendati tidak menampik rekam jejak manis sang petahana pada masa awal pemerintahannya di dekade 2000-an, ia menilai kondisi riil saat ini telah berubah total.

"Seseorang yang berpenghasilan upah minimum tidak punya peluang untuk memperbaiki nasib," tuturnya, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters pada Minggu (27/9/2026).

Menghadapi situasi tersebut, Lula yang saat ini telah menginjak usia 80 tahun terus memohon pengertian dan kesabaran dari para pemilih. Dirinya kerap membanggakan berbagai capaian penting, seperti angka pengangguran yang menyentuh rekor terendah, berkurangnya jurang ketimpangan sosial, serta laju inflasi yang perlahan mendingin dalam beberapa bulan terakhir sebagai sinyal nyata pemulihan ekonomi nasional.

Kendati demikian, rasa kecewa yang dialami Zacarioto memperlihatkan tren global yang lazim memukul pemimpin petahana pascapandemi: beratnya meyakinkan konstituen mengenai perbaikan indikator ekonomi di atas kertas ketika mereka secara nyata masih kepayahan menanggung lonjakan harga komoditas primer.

"Saya tahu kondisinya belum ideal, tetapi saya menjamin inflasi akan tetap terkendali," tegas Lula dalam materi siaran kampanyenya, sembari menekankan bahwa dirinya sangat memahami kepedihan masyarakat kelas bawah.

Persaingan Sengit dan Ancaman "Vibecession"

Dalam kurun waktu beberapa bulan ke belakang, berbagai survei opini publik mencatat persaingan elektoral yang sangat sengit antara kubu Lula melawan Senator Flavio Bolsonaro, putra sulung mantan Presiden berhaluan sayap kanan Jair Bolsonaro, yang sebelumnya telah didiskualifikasi dari pemilu usai diputus bersalah dalam upaya kudeta.

Temuan jajak pendapat memperlihatkan bahwa keresahan terhadap sektor ekonomi menjadi rintangan utama yang menahan laju Lula untuk memimpin perolehan suara secara dominan atas Flavio. Merujuk riset yang dipublikasikan lembaga survei Quaest pada September, hampir setengah populasi Brasil merasa kondisi perekonomian kian memburuk setahun belakangan, sangat kontras dengan 19% responden yang memandang perekonomian mengalami kemajuan.

Senator Flavio Bolsonaro lantas memanfaatkan isu runtuhnya daya beli masyarakat ini sebagai senjata utama kampanye politiknya. Ia kerap membandingkan harga bahan makanan di ritel modern saat ini dengan masa kepemimpinan ayahnya dahulu. Menangkis gempuran tersebut, tim sukses Lula membangun situs resmi bertajuk "Market of Lies" (Pasar Kebohongan) dan melayangkan aduan resmi ke Mahkamah Pemilu atas dugaan penyebaran hoaks harga pangan oleh kubu lawan.

Melihat situasi ini, para pakar menilai fenomena tersebut memicu kondisi "vibecession", yaitu sentimen resesi yang lebih banyak dipicu oleh kecemasan psikologis serta suasana hati publik dibandingkan data statistik resmi.

"Semua data makro menunjukkan bahwa pemerintahan ini telah bekerja dengan baik. Namun kenyataannya, masyarakat umum tidak sependapat dengan hal itu," papar analis politik Thomas Traumann, yang membandingkan dinamika ini dengan badai politik yang menerpa Joe Biden di AS pada 2024 silam.

Himpitan Kredit, Bunga Tinggi, dan Wabah Judi Daring

Kenaikan harga pangan yang berlangsung berkesinambungan kian diperparah oleh tumpukan utang rumah tangga yang semakin mencekik leher. Laporan bank sentral mencatat rasio cicilan utang non-KPR rumah tangga melonjak drastis hingga menyentuh rekor tertinggi di angka 26,6% dari total pendapatan pada Juni lalu.

Krisis utang ini didorong oleh maraknya platform teknologi finansial yang membagikan pinjaman instan berbiaya mahal, serta meluasnya wabah judi online yang menguras dana bernilai miliaran real dari kantong keluarga kelas pekerja.

Kekusutan ekonomi rumah tangga semakin diperberat oleh penetapan suku bunga acuan Brasil yang masih tertahan pada level 13,75%—salah satu tingkat tertinggi di dunia—meskipun pihak otoritas moneter saat ini mulai melakukan pemangkasan bunga secara bertahap.

"Jika Anda mencermati data pasar tenaga kerja dan indikator kemiskinan, memang ada kemajuan signifikan. Namun, jika kita memperhitungkan akumulasi inflasi pangan, suku bunga tinggi, dan maraknya judi daring, hasilnya seimbang seperti pertandingan sengit," jelas Marcelo Neri, pakar ekonomi dari Fundacao Getulio Vargas.