Jakarta – Proyek pembangunan fasilitas pengolahan telur menjadi tepung telur bakal diserahkan kepada perusahaan pelat merah, yakni ID Food. Rencana tersebut diutarakan langsung oleh Menteri Pertanian merangkap Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman.
Amran menjelaskan bahwa gagasan strategis itu telah dibahas bersama Dony Oskaria, yang menjabat sebagai COO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN.
Menurutnya, kehadiran pabrik pembuat tepung telur bakal berfungsi sebagai instrumen jangka panjang dari pemerintah demi menampung pasokan milik peternak ayam petelur. Saat ini, para peternak sedang terdampak surplus komoditas dan penurunan tingkat harga.
"(Pabrik tepung telur akan digarap) BUMN, kami sudah bicara dengan Pak Dony langsung. Nanti mungkin melalui ID Food," tutur Amran saat sesi temu media pasca pertemuan dengan asosiasi peternak di markasnya, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Di samping mendirikan pabrik, otoritas negara juga merumuskan dua taktik tambahan guna mendampingi peternak. Upaya tersebut mencakup pemanfaatan telur lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta menginstruksikan Bulog bersama ID Food guna menjalankan aksi penyerapan darurat.
"Pertama MBG menyerap, kami sudah bicara dengan Kepala BGN. Yang kedua adalah jangka panjang itu membangun pabrik pengolahan telur, tepung telur. Yang ketiga adalah untuk darurat kami minta ID Food dengan Bulog menyerap. Nilainya, Rp30 miliar, itu nggak masalah. Bulog sanggup dengan ID Food. Jadi kami minta bergerak mulai sekarang," sebutnya.
Rangkaian intervensi ini diluncurkan untuk menuntaskan problem keterserapan telur yang tengah membebani kalangan peternak. Pada kesempatan sebelumnya, produsen telur mengeluhkan banderol komoditas mereka yang anjlok melewati batas biaya operasional produksi, hingga berujung pada defisit beruntun.
Sekretaris Koperasi Produsen Peternak Sumedang Raya, Ikhwan, mengungkapkan peternak telah menanggung kerugian selama kurun tujuh bulan terakhir. Kondisi pahit itu muncul lantaran harga pasar lebih rendah dibanding ongkos modal produksi, sehingga keuntungan penjualan nihil menutupi biaya operasional harian.
Dia menerangkan harga pokok produksi (HPP) untuk telur sekarang menembus rentang Rp24.000 per kilogram. Di sisi lain, harga penawaran di kalangan peternak kawasan Jawa Barat semata menyentuh kisaran Rp20.000 per kilogram.
"Betul. Sudah 7 bulan kita rugi hampir kurang lebih Rp4.000 (per kilogram)," ucap Ikhwan tatkala ditemui wartawan di Gedung Kementan.






