Ancaman Penurunan Ekspor Semikonduktor Korea Selatan akibat Belanja AI Amerika

Posted on

Pengiriman semikonduktor dari Korea Selatan (Korsel) menghadapi ancaman penyusutan masif hingga US$100 miliar atau setara Rp1.810 triliun. Ancaman ini berpotensi terjadi seandainya deretan korporasi teknologi raksasa Amerika Serikat (AS) membatasi pengeluaran dana pembangunan sarana kecerdasan buatan (AI) menuju 2027.

Mengutip laporan Reuters, Selasa (27/10/2026), Bank of Korea (BOK) menegaskan penurunan laju ekspansi AI mampu memicu guncangan ekonomi domestik yang amat berpangku tangan pada sektor manufaktur peranti sirkuit terpadu ini. Keterangan tersebut tersampaikan via jawaban resmi tertulis bagi legislator parlemen Ahn Do-geol, saat BOK merinci proyeksi paling suram terkait pemotongan dana modal korporasi teknologi AS.

Pada skenario tekanan tadi, total nilai penjualan cip Korsel berpeluang tergerus sebesar US$50 miliar (Rp905 triliun) hingga menyentuh US$100 miliar (Rp1.810 triliun) jika disandingkan dengan estimasi semula. BOK memproyeksikan koreksi penjualan lintas batas ini sanggup memotong laju produk domestik bruto (PDB) Korsel sebesar 0,4 poin persentase pada 2027 mendatang.

Efek rembetan tersebut diprediksi menekan surplus neraca transaksi berjalan jatuh jauh meleset di bawah target awal otoritas perbankan senilai US$430 miliar (Rp7.783 triliun) pada periode terkait. Perhitungan kalkulasi ini dirumuskan lewat perkiraan bahwa banderol harga satuan komponen cip Korsel terkoreksi 10%.

BOK menggarisbawahi rapuhnya perekonomian domestik karena ketergantungan masif pada sektor cip semikonduktor, pilar yang menopang separuh dari seluruh angka pengiriman ekspor negara. Kecemasan menyeruak justru tatkala alokasi modal korporasi raksasa AS tengah melaju kencang demi menyokong fasilitas ekosistem AI.

Akumulasi pendanaan belanja aset Amazon, Google, Microsoft, Meta, beserta Oracle melonjak tajam dari US$40 miliar (Rp724 triliun) musim lalu menuju estimasi US$80 miliar (Rp1.448 triliun) tahun sekarang, dan ditaksir menyentuh angka US$110 miliar (Rp1.991 triliun) memasuki 2027.

Kendati demikian, pihak BOK mengingatkan bahwa dinamika tren keperluan AI beserta ritme siklus peranti memori masih terselimuti kabut ketidaktentuan. Apabila laju modal AI mengendur, tingkat kebutuhan cip yang menjadi tumpuan ekspor Korsel dipastikan bakal merosot surut.

Sinyal bahaya ini menegaskan betapa rentannya posisi Korsel jika euforia lonjakan investasi AI mendadak mandek. Besarnya peranan produk cip pada portofolio perdagangan nasional menyebabkan fluktuasi anggaran teknologi AS berdampak instan terhadap stabilitas ekspor serta ekspansi ekonomi Korsel.