Ancaman Penuaan Penduduk Mengintai, Kemenkeu Genjot Kualitas SDM Demi Selamatkan APBN

Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pentingnya langkah Indonesia dalam menanamkan investasi berskala masif pada pengembangan sumber daya manusia (SDM). Kebijakan strategis ini ditujukan untuk meredam risiko penuaan populasi atau aging population yang berisiko memperberat tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Berdasarkan penjelasan Suahasil, persoalan demografi nasional di masa mendatang bukan hanya bertumpu pada lonjakan angka warga, melainkan kesiapan pemerintah mendongkrak kapabilitas serta produktivitas warga negara agar senantiasa sanggup menopang laju ekonomi nasional seiring pergeseran komposisi umur masyarakat.

Pernyataan tersebut diutarakan oleh Suahasil dalam forum World Bank Group Closed-Door Ministerial Roundtable bertajuk Transforming Demographic Transition into Human Capital Gains and Job Creation di Bangkok, Thailand, yang dikutip pada hari Rabu (14/10/2026).

Suahasil memaparkan bahwa total warga Indonesia pada saat ini berkisar di angka 284 juta jiwa, serta diperkirakan bakal menyentuh angka 325 juta jiwa dalam kurun waktu 20 tahun ke depan. Bersamaan dengan dinamika itu, gelombang penuaan populasi mulai melanda Nusantara.

Sekarang ini, sekitar 12% masyarakat Indonesia telah menyentuh batas umur 60 tahun ke atas, dan mendekati 8% tergolong berumur 65 tahun ke atas.

"Persoalannya bukan pada jumlah penduduk, melainkan kualitas penduduk. Kita tidak bisa hanya berharap kualitas tersebut akan meningkat dengan sendirinya. Kita harus berinvestasi untuk meningkatkannya," tutur Suahasil dalam pernyataan resminya.

Otoritas fiskal diwajibkan memitigasi transformasi struktur kependudukan ini sedini mungkin. Alasannya, bilamana pertambahan populasi usia senja tidak dibarengi kecakapan SDM dan tingkat produktivitas yang mumpuni, alokasi belanja negara dapat melonjak tajam kala penerimaan kas negara justru mengalami penyusutan.

Fakta tersebut menjadikan penguatan modal manusia sangat krusial, bukan hanya demi mendongkrak ekspansi roda ekonomi, melainkan juga guna menjaga ketahanan finansial negara dalam jangka panjang.

Suahasil menggarisbawahi bahwa penanaman modal pada kompetensi masyarakat mesti digarap secara konsisten dan terpadu, sejak masa pra-kelahiran, fase kanak-kanak, jenjang persekolahan, hingga individu terjun ke dalam pasar tenaga kerja.

Menurutnya, langkah konkret ini dibutuhkan supaya Indonesia tidak sebatas mengecap manisnya keuntungan bonus demografi periode awal, melainkan juga berhasil memetik dividen demografi fase lanjutan maupun silver dividend saat persentase warga lansia kian mendominasi.

"Untuk memperoleh manfaat bonus demografi kedua (silver dividend), kita harus berinvestasi pada kualitas SDM jauh sebelum seseorang memasuki usia lanjut, bahkan sejak sebelum kelahiran, masa anak-anak, pendidikan, hingga memasuki dunia kerja," imbuhnya.

Suahasil memaklumi hasil dari pembiayaan mutu manusia kerap kali baru berbuah manis dalam rentang waktu yang lama. Pada saat bersamaan, negara tetap dituntut membiayai aneka pos pembangunan dan penyediaan fasilitas publik saat ini melalui ketersediaan dana kas yang terbatas.

Oleh sebab itu, ia menyadari perlunya kecermatan dalam merumuskan skala prioritas belanja, yakni memadukan keselarasan antara pemenuhan kebutuhan mendesak saat ini dan pengeluaran modal masa depan yang menjadi penentu kompetensi tenaga kerja sekaligus produktivitas esok hari.