Penguatan hilirisasi tembaga nasional berpotensi melonjak seiring berjalannya kembali pabrik pemurnian milik Freeport.
JAKARTA — Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch (IMEW), Ferdy Hasiman, memberikan respons sangat positif atas kembali beroperasinya sepasang fasilitas peleburan tembaga kepunyaan PT Freeport Indonesia (PTFI). Dirinya menilai, berjalannya kegiatan PT Smelting dan Smelter Manyar di kawasan Gresik, Jawa Timur, bakal mendorong pengolahan konsentrat tembaga milik PTFI berjalan kian optimal.
"Tentu ini kabar positif lantaran sarana peleburan tembaga Freeport tercatat sebagai yang terbesar. Melalui langkah tersebut, proses pemurnian konsentrat ke depan bisa menjadi jauh lebih maksimal," ungkap Ferdy, dikutip Rabu (7/10/2026).
Sebelumnya, operasional PT Smelting sempat disetop sementara waktu semenjak 8 Agustus 2026 demi pelaksanaan perawatan unit furnace. Pada saat bersamaan, Smelter Manyar kini mulai beraktivitas kembali usai sempat terkena dampak penangguhan operasional imbas kejadian di tambang Grasberg.
Mengacu pada dokumen laporan kuartal III 2026 dari Freeport-McMoRan (FCX), total daya tampung peleburan terpadu PTFI, termasuk kapasitas PT Smelting, diproyeksikan mampu mencetak kisaran 800 ribu ton katoda tembaga setiap tahunnya. Berfungsinya kembali kedua pabrik pemurnian ini memperkokoh daya tampung pengolahan konsentrat tembaga sekaligus memperkuat rantai nilai mineral tambang tersebut di pasar domestik.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memaparkan pulihnya fungsi fasilitas pemurnian PTFI memperlihatkan progres menggembirakan. Smelter Manyar kembali mendatangkan pasokan konsentrat pada Agustus serta resmi mencetak katoda tembaga pada September, sehabis sebelumnya distribusi bahan baku yang minim difokuskan bagi PT Smelting.
Yusuf menaruh harapan agar akselerasi daya tampung peleburan mampu berjalan berkesinambungan selaras proses normalisasi aktivitas tambang Grasberg yang dibidik tuntas akhir 2027. Baginya, masa transisi pemulihan ini dapat menjadi waktu tepat memperkokoh ekosistem hilirisasi industri tembaga tanah air.
Dirinya berpendapat kenaikan kapasitas fasilitas smelter mesti dibarengi ekspansi manufaktur manufaktur lanjutan supaya perolehan nilai tambah komoditas mineral tembaga kian masif terserap di dalam negeri. Dewasa ini, estimasi tiga perempat keluaran katoda PT Smelting tetap dikirim ke luar negeri karena penyerapan sektor pemrosesan katoda lokal masih belum mencukupi.
Situasi tersebut memperlihatkan terbukanya potensi besar pemekaran rantai turunan tembaga di nusantara. Agenda hilirisasi itu nantinya dikordinasikan pihak regulator via MIND ID demi memacu pemanfaatan bahan mentah tembaga agar tidak terhenti hanya pada tataran komoditas katoda.
"Tantangannya bukan semata urusan keberadaan permintaan pasar. Aspek penentu lainnya mencakup kepastian harga, komitmen perjanjian jangka panjang, ketepatan kriteria produk, serta kestabilan pasokan industri," jelas Yusuf.
Ia menggarisbawahi bahwa wilayah Indonesia memegang peran penting berkat kepemilikan deposit tembaga melimpah. Oleh sebab itu, strategi pengembangan industri turunan mesti dipacu terarah menuju produk berdaya nilai tinggi layaknya batang tembaga, kawat, kabel, sampai copper foil guna menopang rantai industri kendaraan bertenaga listrik.


