Rentetan mobil dibakar massa, gerai milik ekspatriat dijarah, serta letusan senjata api dilaporkan berdentum di kawasan Soweto.
Gelombang demonstrasi menolak pendatang di Afrika Selatan pecah menjadi kericuhan brutal pada Kamis (8/10/2026). Huru-hara ini melanda wilayah Soweto, Johannesburg, hingga kawasan pesisir Durban. Belasan kendaraan ludes dibakar, pertokoan kepunyaan warga pendatang dirampok, dan rentetan tembakan terdengar mengguncang area Soweto.
Pertikaian di Soweto mempertemukan masyarakat lokal dengan para saudagar perantau. Ketegangan meruncing cepat saat bunyi peluru meletus di pusaran kerumunan. Pada waktu bersamaan, kekacauan di Durban tersulut kelompok warga yang memaksa unit layanan pengungsi segera menyetop pemrosesan berkas suaka imigran.
Menukil Reuters dari pemberitaan lokal News24, diperkirakan terdapat 10 kendaraan yang digulingkan lalu dibakar selama kekacauan berlangsung. Tak cuma meremukkan armada transportasi, para perusuh turut merampok lapak dagang kepunyaan warga asing. Kejadian mencekam ini kian memperpanjang eskalasi konflik akibat maraknya kebencian pada warga pendatang.
Afrika Selatan terus diguncang rangkaian unjuk rasa menentang migran selama beberapa bulan pada tahun ini. Gejolak tersebut menyulut kecaman global lantaran kerap berujung pengrusakan serta perampokan. Ketakutan itu akhirnya memaksa ribuan perantau dari pelbagai penjuru benua Afrika memilih angkat kaki meninggalkan negeri tersebut.
Para demonstran kerap menuding kaum migran merebut kesempatan kerja, memicu lonjakan kriminalitas, serta membebani fasilitas umum. Kendati demikian, pakar ilmu sosial menegaskan klaim miring tersebut sama sekali nirbukti. Kebencian horizontal ini subur akibat sengkarut ekonomi dan ketimpangan yang tak kunjung terurai.
Tiga dasawarsa berselang pasca-runtuhnya apartheid, jurang pemisah sosial di Afrika Selatan tetap menganga lebar. Angka pengangguran kini menyentuh sepertiga dari total populasi warga negara. Kendati begitu, statusnya selaku raksasa ekonomi benua hitam tetap memikat kaum pendatang guna beradu nasib mengais rezeki demi taraf hidup yang jauh lebih layak.








