Eskalasi Memanas: Gempuran Drone dan Rudal Houthi Hantam Wilayah Strategis Riyadh

Posted on
banner 336x280

Jakarta – Kelompok Houthi asal Yaman menyatakan telah melancarkan gempuran terhadap sederet kawasan strategis di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, dengan mengerahkan armada rudal serta drone pada hari Sabtu. Serbuan militer tersebut menyulut kepanikan masif usai jilatan api besar dan kepulan asap pekat terpantau membubung di sekitar kawasan gerbang udara utama ibu kota itu.

Mengutip warta Reuters, Minggu (20/09/2026), sebaran rekaman video serta dokumentasi foto memperlihatkan kolom asap hitam pekat membubung amat tinggi di sekeliling Bandara Internasional Raja Khalid. Asap tebal tersebut menutupi akses jalur tol bandara, bangunan terminal sentral, hingga aneka sarana penunjang lainnya. Selain itu, bara api tampak jelas berkobar dari balik lokasi yang diperkirakan sebagai tangki penyimpanan bahan bakar.

banner 468x60

Aparat pertahanan sipil Kerajaan Saudi sebelumnya sempat menyiarkan sinyal peringatan darurat sepanjang malam lewat jaringan telepon mengenai potensi ancaman gempuran udara di Riyadh dan wilayah Al-Kharj di sisi timur ibu kota, sebelum akhirnya menonaktifkan status bahaya tersebut pada Sabtu pagi waktu setempat.

Seorang awak media yang bertugas di kawasan Olaya, Riyadh, turut melaporkan bahwa dirinya mendengar bunyi dentuman keras sebelum status darurat dihentikan. Walaupun beberapa sinyal bahaya sempat berdentang di Riyadh sejak konfrontasi militer Amerika Serikat dan Iran meletus, peristiwa ini menandai gempuran langsung perdana yang dilaporkan menerjang ibu kota tersebut semenjak friksi dengan kubu Houthi melonjak pada bulan Juli silam.

Kendati pihak Houthi tidak membeberkan sasaran terperinci di Riyadh, mereka menegaskan serangan ini sepenuhnya merupakan aksi balasan setimpal atas gempuran koalisi di ibu kota Yaman, Sanaa. Kelompok tersebut turut mengklaim sudah memborbardir fasilitas pemrosesan minyak milik Aramco di kota Yanbu yang membentang di tepian Laut Merah dan berfungsi selaku pusat distribusi ekspor energi utama Saudi.

Menanggapi gempuran ini, pihak aliansi militer pimpinan Saudi mengeklaim unit pertahanan udaranya sanggup melumpuhkan proyektil rudal yang diarahkan menuju Riyadh pada Sabtu dini hari. Aliansi gabungan ini juga menegaskan sukses membendung deretan serangan yang menyasar penduduk sipil di kota Bish dan Farasan di barat daya, Taif di sektor barat, serta Yanbu, tanpa merinci apakah terdapat kerusakan fisik dari gelombang gempuran tersebut.

Ancaman serangan udara ini lantas mendorong Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk segera menerbitkan maklumat keamanan pada hari Sabtu bagi seluruh warganya di Timur Tengah. Otoritas Washington mengimbau warga AS agar mengerek kewaspadaan maksimal dan menyerukan masyarakat di luar teritori tersebut untuk meninjau ulang agenda lawatan mereka ke sana. Kendati krisis memuncak, Presiden AS Donald Trump dilaporkan bersikeras menolak permintaan pihak Saudi guna mengerahkan kekuatan militer AS secara langsung untuk memukul mundur Houthi.

Eskalasi konflik bersenjata ini menghadirkan kerentanan serius terhadap kelancaran rantai pasokan bahan bakar global. Kelompok Houthi, yang menguasai zona terpadat Yaman beserta kawasan utara, terus menggempur armada kapal komersial Saudi semenjak menetapkan blokade laut pada Juli. Kondisi ini sangat merugikan rute alternatif Laut Merah bagi pengapalan migas negara-negara Teluk, terlebih jalur utama Selat Hormuz kini masih diblokir akibat perang AS dan Israel versus Iran sedari akhir Februari.

Merespons kebutuhan pertahanan Saudi yang mendesak, Menlu Turki Hakan Fidan mengutarakan kesiapan negerinya untuk mengulurkan sokongan bagi Riyadh melalui mekanisme kemitraan pertahanan trilateral bersama Pakistan yang baru diteken bulan lalu. Pakta pertahanan bersama ini secara mutlak memaktubkan bahwa agresi terhadap salah satu anggota diposisikan selaku serangan nyata terhadap segenap anggota aliansi.

"Kebutuhan Saudi dapat mencakup beberapa masalah teknis," bebernya.

Pada kesempatan lain, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan penegasan bahwa Teheran senantiasa mendambakan berakhirnya konflik militer Saudi-Houthi, diiringi keyakinan bahwa warga Yaman pun mendambakan solusi damai. Rezaei memaparkan bahwa pihaknya aktif bermusyawarah bersama pihak mediator dari Qatar dan Pakistan, serta sudah menyodorkan butir-butir syarat kelanjutan dialog tertunda dengan AS.

"Ini termasuk mengakhiri perang di semua lini," papar Rezaei. "Kami sedang menunggu tanggapan dari Trump."

Sementara itu, jajaran Dewan Keamanan PBB pada hari Jumat resmi merilis pernyataan diplomatik yang mengutuk keras keberlanjutan gempuran milisi Houthi terhadap fasilitas sipil dan kilang energi milik Saudi yang melukai masyarakat sipil, termasuk kaum wanita serta anak-anak. Organisasi bangsa-bangsa dunia tersebut turut mengecam keras eskalasi militer Houthi yang memperparah krisis di Yaman.

banner 336x280