Perum Bulog bakal menggulirkan agenda sertifikasi terhadap 1.800 mitra penggilingan gabah pada permulaan tahun mendatang guna menyelaraskan mutu beras sekaligus memperkokoh ketersediaan pangan di tanah air.
Badan Urusan Logistik tersebut merancang penerapan skema akreditasi rekanan pengolahan padi per awal tahun baru. Kebijakan strategis ini dijalankan untuk menjamin konsistensi mutu komoditas pokok serta memantapkan tata kelola cadangan pangan domestik secara berkesinambungan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwasanya agenda sertifikasi ini dimaksudkan agar seluruh rekanan penggilingan mempunyai pedoman pemrosesan gabah yang makin jelas parameternya. "Awal tahun depan dimulai sertifikasinya. Tujuannya untuk melihat kualitas dari masing-masing penggilingan, sehingga dengan adanya sertifikasi itu nanti hasil produksi pengolahan gabah menjadi beras Bulog terstandardisasi," ujar Rizal di Jakarta, Minggu.
Lewat mekanisme tersebut, pihak Bulog menargetkan para mitra pengolah padi yang mulanya masih berdaya saing kurang maksimal dapat memacu keahlian produksi mereka sehingga mampu menelurkan mutu beras yang semakin baik. Pada masa kini, total rekanan penggilingan yang aktif beroperasi di berbagai pelosok nusantara menyentuh angka kurang lebih 1.800 unit guna menopang penyerapan hasil panen para petani.
"Kalau mitra itu ribuan di seluruh Indonesia. Jumlahnya 1.800-an," jelasnya. Sejauh pengamatan Bulog, taraf kualitas dari mitra kerja pengolahan sejatinya tergolong bagus, termasuk aspek rendemen yang membuktikan tahapan pengolahan gabah sudah bergulir cukup selaras dengan harapan. Kendati demikian, sertifikasi resmi dipandang tetap mutlak diterapkan agar semua unit mempunyai parameter setara serta sanggup menjaga kesinambungan kualitas pasokan yang didistribusikan langsung kepada para konsumen.
Gandeng Perpadi Beserta Konsultan
Tahapan verifikasi ini ke depannya bakal menyatukan peran Bulog, Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi), dan tim konsultan terpilih. Sinergi ini bertugas menjalankan audit mendalam terkait kapabilitas teknis maupun mutu fasilitas operasional para rekanan. Bulog menegaskan bahwa agenda ini tidak semata-mata memeriksa kelayakan, melainkan turut menyuguhkan bimbingan intensif supaya para rekanan dapat meningkatkan kapasitas pemrosesan beras secara stabil.
Beberapa rekanan pengolahan padi Bulog sebenarnya telah mengantongi akreditasi resmi, sementara unit-unit penggilingan yang lain dijadwalkan bakal mengikuti mekanisme audit kelaikan tersebut secara bertahap sejak awal tahun depan.
Dorong Penekanan Ongkos Produksi
Tak hanya perihal akreditasi mutu, Bulog juga berupaya keras mengoptimalkan pemangkasan beban anggaran operasional rekanan melalui kerja sama terpadu dengan PT PLN dalam merombak pola penyediaan setrum. Mengandalkan skema pasokan listrik prabayar atau token, pihak pengelola penggilingan diproyeksikan sanggup menekan pengeluaran daya, yang pada akhirnya memicu pembentukan banderol komoditas beras yang semakin kompetitif di pasar.
"Jadi listrik itu yang selama ini pakai abonemen, kami sudah koordinasi dengan PLN, itu nanti menggunakan token. Karena kalau dengan token dia akan mengurangi biaya operasionalnya, sehingga harga beras akan lebih murah," tutur Rizal.
Rangkaian agenda penjaminan mutu serta penghematan daya listrik ini merupakan bagian integral dari ikhtiar Bulog dalam merawat ekosistem perberasan nasional demi mendongkrak keunggulan kompetitif. Bersandarkan program standardisasi fasilitas dan efisiensi pengeluaran harian, Bulog memelihara optimisme kuat bahwa keunggulan beras tanah air kian terjaga, sekaligus memantapkan ketahanan pangan bagi seluruh masyarakat.





