Jakarta, CNBC Indonesia – Sektor industri manufaktur di tanah air mencatatkan lonjakan kinerja yang sangat nyata sepanjang Oktober 2026. Angka Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia melesat menyentuh 54,0, naik signifikan dari level 52,4 pada September 2026. Capaian impresif ini merupakan rekor paling tinggi sepanjang 31 bulan ke belakang, sekaligus mengukuhkan laju ekspansi paling solid sejak periode Maret 2024.
Pendorong utama lonjakan kinerja ini adalah derasnya aliran pesanan baru yang melesat dalam tempo paling kencang selama lima tahun ke belakang. Di samping optimisme pasar yang kian menebal, kehadiran aneka barang produksi anyar ikut mendongkrak volume permintaan. Bahkan, permintaan dari pasar global mencetak rekor ekspansi paling pesat sejak riset PMI pertama kali diselenggarakan pada April 2011 silam.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengungkapkan bahwa lompatan PMI ini membuktikan pemulihan sektor industri dalam negeri terus berjalan konsisten. Ia menilai laju positif ini wajib dijaga secara berkelanjutan demi menghadirkan pengaruh positif yang lebih luas bagi perekonomian nasional.
"PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 kembali meningkat dan berada semakin jauh di atas ambang batas ekspansi 50 poin. Ini merupakan perkembangan yang positif dan menjadi indikasi bahwa aktivitas industri nasional terus bergerak ke arah yang lebih baik. Momentum ini harus kita jaga agar dapat memberikan dampak yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing industri," papar Sarmuji melalui pernyataan resminya, Senin (2/11/2026).
Mengacu pada laporan resmi S&P Global, posisi PMI manufaktur tanah air pada Oktober berhasil mengungguli capaian beberapa negara di zona Asia Pasifik. Tercatat Jepang meraih angka 53,3, Vietnam membukukan 52,3, China berada di 52,0, Korea Selatan mengantongi 51,3, Malaysia di 51,0, dan Australia tertahan pada 49,6. Skor melampaui level 50 mencerminkan kegiatan produksi sedang berada dalam fase bertumbuh atau mengalami peningkatan performa dari bulan sebelumnya.
Walaupun sanggup melampaui performa deretan negara mitra, otoritas terkait memandang sektor manufaktur nusantara masih menyimpan ruang ekspansi yang lapang. Langkah penguatan kapasitas produksi serta penguatan daya saing menjadi tugas berkesinambungan agar pabrikan lokal tidak cuma bertumpu pada pasar lokal.
"Indonesia memiliki potensi industri yang sangat besar, baik dari sisi pasar domestik, sumber daya, maupun kemampuan produksi. Karena itu, penguatan industri harus terus diarahkan agar kita tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga semakin kompetitif di pasar ekspor," sebut Sarmuji.
Pihak regulator turut menekankan urgensi pemeliharaan iklim bisnis agar para pengusaha sanggup melipatgandakan hasil produksi. Beberapa langkah strategis yang dipacu mencakup konsolidasi ekosistem industri, pengoptimalan pemanfaatan produk lokal, proteksi pasar lokal terhadap serbuan produk impor ilegal atau tidak sehat, hingga jaminan ketersediaan bahan baku serta suplai energi.
"Industri yang sudah memiliki kemampuan produksi harus terus diperkuat, sedangkan industri yang masih membutuhkan dukungan harus kita pacu agar semakin berkembang. Kita ingin pertumbuhan manufaktur tidak hanya terlihat dari indikator survei, tetapi juga tercermin dalam peningkatan produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja," tegas Sarmuji.
Solidnya geliat sektor pengolahan ini juga sejalan dengan rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 oleh Kementerian Perindustrian. Posisi IKI berada pada angka 53,77, mengalami lonjakan 1,84 poin daripada level September 2026 sebesar 51,93. Hasil positif tersebut sekaligus melampaui capaian 53,50 pada masa yang sama tahun terdahulu dengan selisih 0,27 poin.








