Aksi demonstrasi berskala masif mengguncang berbagai wilayah di benua Eropa pada hari Sabtu menyusul lonjakan beban biaya hidup serta kemerosotan mutu layanan publik. Aparat keamanan kini berada dalam status siaga tinggi guna mengantisipasi eskalasi aksi kekerasan setelah maraknya peristiwa penjarahan dan kerusuhan beberapa waktu belakangan.
Berdasarkan laporan NBC News pada hari Senin (2/11/2026), sejumlah negara termasuk Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia serentak menggelar unjuk rasa bertepatan dengan momen perayaan Halloween. Gelombang protes terkini tersebut meneruskan rangkaian aksi unjuk rasa besar yang digerakkan oleh Generasi Z (Gen Z) di kawasan Eropa akhir-akhir ini.
Berikut rangkuman situasi terkini mengenai gelombang demonstrasi yang berlangsung di sejumlah negara tersebut:
Otoritas keamanan Prancis menerjunkan sebanyak 70.000 personel kepolisian pada hari Sabtu menyusul pecahnya huru-hara terparah dalam rentang beberapa dekade ke belakang. Gejolak mahasiswa yang mulanya memprotes persoalan sektor pendidikan kini telah bertransformasi menjadi gelombang aksi yang jauh lebih luas mencakup masalah biaya hidup serta sistem jaminan sosial.
Ketika parade unjuk rasa mulai bergulir di Paris, barisan demonstran terlihat membentangkan spanduk bernada sindiran bahwa mereka tidak memerlukan gas air mata agar masa depan menjadi kabur. Berbagai rekaman video yang telah terverifikasi turut memperlihatkan kobaran api dan konsentrasi massa dalam jumlah yang sangat besar di kota Marseille.
Berdasarkan catatan Kementerian Dalam Negeri Prancis, diperkirakan sekitar 320.000 warga turun ke jalan di seluruh penjuru negeri, termasuk sekitar 70.000 peserta unjuk rasa di ibu kota Paris. Aparat kepolisian setempat juga melaporkan telah melakukan penahanan terhadap lebih dari 560 orang demonstran di seantero negeri pada Sabtu malam tersebut.
Pada pekan sebelumnya, aparat kepolisian telah menahan sebanyak 1.300 orang ketika sekitar 410.000 masyarakat memadati jalan raya di berbagai penjuru kota. Sejumlah pertokoan, fasilitas umum milik pemerintah, serta tempat usaha terus mengalami kerusakan fisik semenjak rangkaian aksi demonstrasi meledak pada bulan lalu.
"Semua orang bersiaga untuk memastikan tanggapan yang sangat tegas terhadap masalah apa pun," tegas Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez.
Ia mengumumkan bahwa langkah perlindungan bagi kawasan pertokoan akan terus diperketat dan seluruh agenda unjuk rasa di pusat kota dipastikan tidak berizin. Pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat di Prancis turut mengeluarkan imbauan keselamatan kepada para wisatawan agar menjauhi kawasan yang menjadi titik kumpul massa pengunjuk rasa.
Gelombang demonstrasi di Prancis berawal sesaat setelah Perdana Menteri Emmanuel Macron memulai tahapan pembahasan anggaran belanja negara untuk tahun 2027. Kelompok mahasiswa yang murka terhadap kemerosotan mutu sistem pendidikan dan tingginya biaya kebutuhan pokok seketika membanjiri jalan raya untuk meluapkan amarah mereka.
Massa mahasiswa ini kemudian berkolaborasi dengan serikat buruh serta kelompok Rompi Kuning, yaitu gerakan akar rumput yang pertama kali mencuat pada 2018. Fenomena perlawanan terhadap kenaikan tarif pajak bahan bakar ini tampaknya sukses memicu gelombang gerakan penolakan yang serupa di seluruh kawasan benua Eropa.
Sementara itu di Jerman, kelompok advokasi Gen Z regelt berhasil mengoordinasikan aksi turun ke jalan di lebih dari 30 kota pada hari Sabtu. Demonstrasi serentak berskala sangat besar ini berpusat di ibu kota Berlin serta kawasan pusat perbankan di kota Frankfurt.
Gerakan tersebut menyuarakan desakan peningkatan alokasi anggaran bagi fasilitas sekolah, kebijakan perlindungan krisis iklim, hingga ketersediaan hunian layak. Di samping tuntutan itu, mereka menyatakan penolakan tegas atas agenda pemerintah yang berencana mengaktifkan kembali kewajiban mengikuti program militer.
"Kita semua memiliki gambaran dari Prancis di benak kita, penjarahan, pembakaran rumah, pembakaran kendaraan polisi, dan serangan terhadap petugas polisi," papar Menteri Dalam Negeri negara bagian Hesse, Roman Poseck.
Ribuan pengunjuk rasa tampak memadati kawasan sekitar Gerbang Brandenburg di Berlin, lokasi di mana kepolisian menyiagakan 1.500 petugas tambahan. Kendati mayoritas massa bertindak damai, sejumlah titik aksi dilaporkan berubah menjadi bentrokan fisik pada Sabtu malam.
Di pusat kota Frankfurt, sejumlah perusuh merusak kaca etalase pertokoan lalu menjarah barang dagangan yang berada di dalamnya. Para demonstran anarkis tersebut bahkan sempat mengambil senjata api dari salah satu toko senjata sebelum akhirnya berhasil diamankan kembali oleh kepolisian.
Pihak kepolisian Frankfurt menerangkan bahwa beberapa perusuh nekat melemparkan bom molotov langsung ke arah barisan personel kepolisian. Aksi pelemparan bom molotov ini meletus setelah massa sempat melempari aparat dengan bongkahan batu dan botol kaca sepanjang siang hari.
Beralih ke Italia, pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Giorgia Meloni menugaskan 500 tentara guna mendampingi polisi di Milan hingga penutupan tahun ini. Kebijakan militer tersebut diambil setelah kelompok pedemo bertopeng melakukan penjarahan ruko dan melempari aparat kepolisian pada awal bulan ini.
Puluhan ribu demonstran kembali memadati ruang publik di Roma dan beberapa kota lain di Italia pada hari Jumat. Aksi tersebut sebagian besar berjalan tanpa keributan, kendati kepolisian sesekali merangsek maju untuk membubarkan kerumunan massa.
Sejumlah bidikan kamera jurnalis turut merekam momen aparat kepolisian menembakkan meriam air ke arah para demonstran. Aparat kepolisian Italia dikerahkan secara besar-besaran melibatkan pasukan antihuru-hara, armada drone pengintai, serta helikopter yang memantau dari atas langit Roma.
"Kami benar-benar dikacaukan oleh fakta bahwa upah tidak mengikuti inflasi dan upah pada umumnya tidak mengikuti biaya hidup," ungkap seorang mahasiswa kedokteran berusia 20 tahun, Luca.
Identitas nama belakang mahasiswa tersebut sengaja tidak dipublikasikan oleh pihak kantor berita. Keputusan penyembunyian nama keluarga ini diambil murni demi mencegah potensi tindakan balasan dari jajaran lembaga penegak hukum setempat.
Negara Eropa Lainnya
Pada wilayah Eropa lainnya, tenda-tenda perkemahan darurat dalam jumlah sangat masif telah menduduki salah satu alun-alun di Madrid, Spanyol, semenjak akhir bulan kemarin. Pada saat yang sama, ribuan warga di Portugal juga menggelar long march di sepanjang jalanan kota Lisbon.
Di Brussel, Belgia, tembakan gas air mata beserta semprotan meriam air dimuntahkan aparat demi mengurai barisan pengunjuk rasa yang mengenakan pakaian serba hitam. Di Inggris, ratusan massa diprediksi berkumpul menggelar protes di area luar gedung Kedutaan Besar AS di kota London.
Para demonstran tersebut bersedia menghadapi risiko penangkapan hukum demi menyuarakan dukungan terhadap Palestine Action, perkumpulan aksi yang dilarang pemerintah Inggris. Sedangkan di Serbia, gerakan mahasiswa sukses membantu melengserkan figur pemimpin lama negara tersebut melalui pemungutan suara di bilik suara.








