Jakarta – Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, mengingatkan agar proses perumusan RUU Perampasan Aset tidak sampai menyedot energi rakyat bila akhirnya cuma melahirkan kegaduhan. Menurut pandangan Surya, jika rancangan beleid tersebut dipandang sangat krusial bagi hajat hidup publik, proses perumusannya dipersilakan untuk diteruskan.
"Kalau memang dianggap memang sudah urgen sekali publik ini, silakan saja. Tapi satu saya ingin memberikan sinyal pada saudara-saudara bangun kesadaran publik kita ini," ungkap Surya saat berada di NasDem Tower, kawasan Jakarta, Sabtu (19/9/2026) malam.
Surya berpendapat, warga negara semestinya mempunyai pemahaman yang selaras menyangkut hak serta kewajiban konstitusional mereka. Kondisi mendasar tersebut dinilai wajib menjadi perhatian utama sebelum otoritas terkait bergegas menerbitkan pelbagai macam undang-undang baru.
"Sejujurnya, belum bisa mampu untuk menselaraskan hak dan kewajiban yang mereka miliki sebagai anak bangsa ini," tegas Surya.
Lebih lanjut, Surya menilai RUU Perampasan Aset adalah produk hukum yang sangat unik. Ia meragukan nilai kepentingannya manakala legislasi tersebut berujung memicu kontroversi panjang di ruang publik.
"Jadi semakin banyak produk undang-undang, apalagi yang unik gitu, kalau saya katakan perampasan aset ini unik, ya kan? Unik sekali menurut saya," tutur dia.
Ia kembali mewanti-wanti supaya dinamika pembentukan aturan hukum tidak menjelma sengketa yang menghabiskan daya tahan masyarakat.
"Padahal kalau hanya ini bisa menimbulkan polemik, untuk apa? Hal yang paling kita jaga adalah jangan energi bangsa ini terbuang untuk polemik demi polemik," terang Surya.
Oleh karena itu, Surya mengimbau seluruh elemen merawat kestabilan negeri dengan menyalurkan pandangan kritis yang disertai jalan keluar nyata.
"Kita harus bisa save the energy. Jaga stabilitas nasional kita. Salurkan pikiran-pikiran kita, bikin pikiran-pikiran yang kritis, tapi juga solutif," kata Surya dengan lugas.
Bagi Surya, sebatas menyampaikan kecaman tanpa menawarkan penyelesaian adalah langkah keliru, sebagaimana halnya mentalitas asal bapak senang yang pasif.
"Kan celaka juga hanya mengkritisi, enggak suka, tapi enggak ada jalan keluar. Atau ABS. Dua-dua menurut kita tidak pas itu," pungkas Surya.
Dapatkan laporan peristiwa aktual dan kredibel melalui Berita Liputan6







