Pemimpin sayap kiri Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, berhasil membalikkan keadaan dan keluar sebagai pemenang dalam pemilihan presiden yang digelar Minggu (25/10/2026). Kemenangan ini diraih usai menundukkan rival utamanya dari sayap kanan, Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro yang sempat unggul di putaran awal.
Hasil ini mencetak sejarah bagi sang petahana yang menginjak usia 81 tahun pada Selasa mendatang. Lula sukses mengamankan masa kepresidenan periode keempat untuk memimpin perekonomian terbesar di Amerika Latin, mematahkan berbagai prediksi sebelum pemungutan suara.
Berdasarkan data tabulasi resmi AFP, Lula mengantongi 51,75% suara pemilih, mengalahkan Flavio Bolsonaro yang memperoleh 48,25%. Padahal, Flavio sebelumnya optimistis menyusul keunggulannya dalam sejumlah jajak pendapat.
Kemenangan Lula sekaligus membendung gelombang kebangkitan politik sayap kanan yang belakangan melanda negara-negara Amerika Latin, seperti Argentina, Chile, Kolombia, dan Peru. Arus konservatif di kawasan tersebut selama ini mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Proses pemilihan berlangsung sengit dan diwarnai ketegangan. Situasi sempat kacau setelah Mahkamah Agung Brasil pada momen krusial memutuskan memperpanjang jam buka tempat pemungutan suara selama dua jam.
Perpanjangan ini dikabulkan atas permintaan kubu Lula menyusul aksi mogok bus umum di banyak kota yang menghambat pemilih menuju bilik suara. Meski Flavio Bolsonaro juga meminta perpanjangan di area terdampak badai, tim kampanyenya mengkritik perpanjangan waktu secara nasional tersebut.
"Entah kita menang. Atau kita menang. Anggap diri kalian sudah diperingatkan," ujar anggota parlemen pro-Bolsonaro, Nikolas Ferreira, di media sosial X saat penghitungan suara dimulai.
Hasil ketat ini kembali memperlihatkan polarisasi mendalam di Brasil yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa. Lula sendiri merupakan figur yang mendominasi panggung politik negara tersebut selama empat dekade.
Ketertinggalan di putaran pertama sempat menekan mental kubu petahana. Koalisi kiri kemudian menggalang pawai akbar bertajuk "Jangan Pernah Lagi Bolsonaro" guna mengingatkan publik atas penanganan pandemi Covid-19 di era Jair Bolsonaro, deforestasi Amazon, dan pemangkasan bantuan sosial.
Lula turut memperbarui strategi digitalnya dengan mengunggah video swafoto dan membeli ponsel pintar pertamanya. Para pendukungnya gencar membujuk keluarga dan tetangga agar hadir memilih di tengah tingginya angka golput pada babak pertama.
Kemenangan ini menandai kebangkitan lanjutan bagi Lula, figur asal timur laut Brasil yang dibesarkan dalam kemiskinan ekstrem oleh orang tua buta aksara. Reputasinya dibangun lewat program sosial yang mengentaskan puluhan juta warga miskin.
Lula kembali ke kursi kepresidenan pada 2022 setelah sebelumnya sempat dipenjara selama 18 bulan atas kasus korupsi. Hukuman tersebut pada akhirnya dibatalkan oleh pengadilan lantaran cacat prosedur hukum.
Selama periode ketiganya, Lula berhasil menekan angka pengangguran dan inflasi serta mengatasi kelaparan, meski sebagian pemilih mengeluhkan lonjakan biaya hidup dan jaminan keamanan. Isu perlindungan sosial pun kembali dijadikan andalan lewat perluasan jaring pengaman sosial.
Tantangan besar kini membayangi periode keempat Lula. Lanskap masyarakat Brasil tetap terbelah karena hampir separuh pemilih menginginkan suksesi kepemimpinan ke kubu lawan.
Faktor usia turut disorot mengingat Lula berstatus sebagai salah satu pemimpin tertua di dunia. Saat masa tugasnya tuntas pada 2030, usianya akan menginjak 85 tahun. Bila tuntas, total kepemimpinannya mencapai 16 tahun, melengkapi masa pemerintahannya pada periode 2003–2010.
Selain menghadapi polarisasi masyarakat, Lula harus berhadapan dengan Kongres yang didominasi kekuatan konservatif sayap kanan. Komposisi parlemen ini diprediksi mempersempit ruang gerak pengesahan kebijakan pemerintahannya.
Kondisi ekonomi makro turut menjadi ganjalan seiring proyeksi melambatnya pertumbuhan ekonomi Brasil, yang membatasi ruang fiskal untuk belanja sosial. Lula juga memikul beban berat untuk menekan kekerasan bersenjata dan pengaruh kejahatan terorganisir di wilayah-wilayah permukiman miskin.
Sepanjang masa kampanye, Lula menekankan narasi kedaulatan nasional di tengah tekanan hubungan luar negeri dan perdagangan dari pemerintahan Donald Trump di AS. Ia mengajak rakyat memilih arah masa depan yang mempertahankan martabat negara.
Masyarakat harus "memilih negara yang benderanya dihormati," tutur Lula dengan suara serak usai rentetan kampanye. Ia menambahkan bahwa rivalnya berniat "memerintah dengan bendera Amerika," mempertegas bahwa kedaulatan merupakan fondasi utama perjuangan politiknya.








