Arus protes berskala besar mengguncang berbagai kawasan perkotaan di benua Eropa.
Eskalasi unjuk rasa melanda beberapa pusat kota Eropa pada Sabtu (24/10/2026). Pergerakan massa di Prancis, Albania, Spanyol, serta Italia diwarnai konfrontasi fisik dengan aparat kepolisian, penembakan meriam air, hingga insiden kebakaran hebat di ruas jalan raya.
Di Prancis, gelombang demonstrasi pecah di Paris, Marseille, beserta Lyon sebagai rangkaian aksi unjuk rasa nasional yang diinisiasi oleh kelompok Rompi Kuning atau Yellow Vests.
Gerakan jalanan tersebut menghimpun aliansi serikat buruh, pelajar tingkat menengah, serta mahasiswa guna menolak lonjakan biaya hidup dan melambungnya tarif bahan bakar.
Pada saat bersamaan, unjuk rasa mahasiswa di Tirana, Albania, juga berujung keributan dalam aksi demonstrasi penentangan terhadap rezim pemerintah.
Petugas keamanan terpaksa mengoperasikan armada water cannon demi memecah konsentrasi kerumunan demonstran.
Satuan personel antihuru-hara dilaporkan turut mengamankan dan menahan sejumlah massa aksi di lapangan.
Di tengah kericuhan, letusan kembang api serta kobaran api tampak menyala di titik konsentrasi unjuk rasa.
Aksi tersebut memadukan desakan kalangan mahasiswa, sentimen antipemerintah, tuntutan pemberantasan korupsi, serta tekanan krisis biaya hidup dan mahalnya biaya pendidikan.
Sementara di Barcelona, Spanyol, aksi turun ke jalan mahasiswa diwarnai penangkapan sejumlah aktivis serta penjagaan barikade ketat dari kepolisian.
Banyak pemilik toko memutuskan menutup usaha dan memasang proteksi ekstra pada fasad bangunan selama demonstrasi berlangsung demi mengantisipasi potensi huru-hara.
Sekelompok demonstran nekat menjarah gerai pertokoan dan menyulut api pada fasilitas publik di pusat kota. Petugas kepolisian lantas menciduk sekitar 100 orang terkait insiden anarkis itu.
Gejolak ketegangan turut menjalar ke Italia. Di kota Bologna, ratusan pengunjuk rasa yang memprotes himpitan biaya hidup berhadapan langsung dengan barisan aparat antihuru-hara.
Di Milan, aparat terlibat bentrokan sengit dengan demonstran yang melempari batu, meremukkan etalase pertokoan, serta membakar tong sampah di kawasan Piazza Duomo. Petugas menembakkan gas air mata beserta semprotan meriam air untuk membubarkan massa.
Adapun di Roma, aksi massa spontan kembali terselenggara hingga berujung perkelahian fisik dan penyemprotan meriam air dari kepolisian.
Aksi demonstrasi juga terpantau di Milan, tepat sepekan sesudah unjuk rasa terdahulu memicu kerusuhan dan penjarahan di beberapa kota Italia utara.
Rangkaian peristiwa tersebut mempertegas eskalasi instabilitas di seantero Eropa, yang dipicu persoalan biaya hidup, lonjakan harga bahan bakar, serta dinamika tuntutan politik.





