Transformasi Omah Wayang: Mengubah Rumah Mewah Sitaan Koruptor Jadi Markas Para Dalang

Posted on
banner 336x280

Wilayah seputar Keraton Yogyakarta senantiasa memancarkan daya pikat kebudayaan Jawa yang sangat kental. Berada persis di salah satu pojok kawasan Jero Beteng, berdiri kokoh satu bangunan berpagar hitam pekat yang langsung memancing perhatian siapa pun yang melintas.

Ornamen gunungan wayang berukuran raksasa terpasang megah dihiasi kombinasi aneka warna yang sungguh menawan. Tepat di sisi bawah ornamen tersebut, terpahat tulisan bersahaja bertuliskan: Omah Wayang.

banner 468x60

Melangkahkan kaki memasuki kompleks hunian tradisional berkarakter Jawa tersebut menghadirkan sensasi menjelajahi lorong waktu yang membangkitkan kekaguman mendalam pada kearifan budaya daerah.

Sisi dindingnya yang bercat putih disemarakkan oleh karya seni mural Wayang Beber klasik, memperlihatkan figur-figur bergaya tatahan wayang kulit khas Jawa, ragam hias pohon hayat gunungan, hingga untaian aksara Jawa yang elok dipandang.

Sementara di bagian tembok lainnya, berjejer rapi deretan potret tokoh-tokoh krusial di balik pentas seni pewayangan Yogyakarta. Sosok yang terpajang mencakup Ki Regut Widi Prayitno sang pelindung eksistensi wayang golek menak, sampai sosok maestro wayang kulit kenamaan, Ki Timbul Hadiprayitno, yang dahulu kerap mendalang di hadapan Presiden Soeharto serta Gus Dur.

Bukan cuma dokumentasi visual, bentangan kelir putih dan satu set instrumen gamelan komplit tersusun rapi, selalu siaga melantunkan irama pengiring pergelaran.

Riwayat Munculnya Omah Wayang

Kendati kini sarat dengan denyut kesenian, rumah berkonsep langgam Jawa dengan luas bangunan 573 meter persegi di atas area 226 meter persegi ini pada kenyataannya menyimpan rekam jejak kelam masa lalu.

Omah Wayang pada masa silam merupakan salah satu tempat tinggal mewah kepunyaan eks Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Djoko Susilo. Properti berharga Rp 4,47 miliar ini disita oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seusai mantan perwira tinggi tersebut tersandung skandal korupsi proyek simulator kemudi SIM pada 2011.

Mengacu pada ketetapan Putusan Mahkamah Agung Nomor 537 K/PID.S/2014, aset bernilai miliaran rupiah ini resmi ditetapkan sebagai barang rampasan negara. Pada tahap awal, pihak KPK melalui unit Direktorat Pelacakan Aset Pengelolaan Barang dan Eksekusi (Labuksi) berupaya melelangnya secara terbuka. Walau demikian, berhubung sepi dari tawaran pembeli, mekanisme penyerahan hibah akhirnya dipilih.

"Akhirnya dari pihak Pemprov DIY mengajukan permohonan hibah kepada KPK," tutur Suryo Sularso yang bertugas sebagai Jaksa Direktorat Labuksi KPK.

Berlandaskan instrumen Penetapan Status Pengguna (PSP) serta izin resmi DJKN Kementerian Keuangan, kepemilikan aset diserahkan seutuhnya ke Pemprov DIY pada 2019. Proses peralihan ini menjadi tonggak riil pengembalian kerugian negara demi menghadirkan fungsi yang berdampak bagi publik.

Otoritas Pemprov DIY menyambut pemberian status hibah ini secara serius. Kendati secara regulasi status fisiknya bukan cagar budaya, nilainya terangkat berkat arsitektur tradisionalnya yang selaras dengan lingkungan Cagar Budaya Keraton. Lapangan terbukanya yang lapang turut menjadi lokasi strategis untuk menyelenggarakan panggung kebudayaan.

"Bahasa mudanya punya markas gitu ya. Punya tempat kumpul di mana di situ berlangsung dialog, silaturahmi, pertukaran pengetahuan, keterampilan, termasuk pertunjukan wayang secara rutin," sebut Dian Lakshmi Pratiwi selaku Kepala Dinas Kebudayaan DIY.

Pekerjaan pemugaran dan perbaikan fisik dilakukan secara cermat tanpa mengubah denah ruangan aslinya, hingga fasilitas Omah Wayang diresmikan pada 2022. Bangunan ini kini bertindak sebagai urat nadi kegiatan seni wayang di Yogyakarta melalui sinergi bersama tiga sanggar, yaitu PEPADI, Pepadang, serta Sukrakasih, dengan agenda pergelaran wayang publik minimal tiga kali per bulan.

Cita-cita Lawas Komunitas Pedalangan

Bagi kalangan praktisi seni, lahirnya Omah Wayang menandai terkabulnya impian lama. Edi Suwondo selaku Ketua PEPADI DIY menceritakan kembali bahwa dorongan untuk mewujudkan markas bersama telah diperjuangkan sejak periode 2017–2018.

Ketersediaan fasilitas fisik ini terbukti mengobarkan akselerasi pembaruan generasi pelaku seni. Menariknya, bermunculan dalang belia serta remaja di Yogyakarta yang menekuni seni pewayangan tanpa memiliki garis keturunan dalang.

"Sekarang di Jogja banyak dalang anak dan remaja yang multitalenta, bisa wayang kulit dan golek. Kalau yang seangkatan saya malah kalah sebenarnya," kata Edi penuh rasa bangga.

Berawal dari peninggalan praktik rasuah, Omah Wayang bermutasi menjadi episentrum perjumpaan kesenian, tempat pelestarian ajaran luhur, sekaligus bukti pemanfaatan kembali masa lalu kelam menjadi warisan berguna bagi generasi masa depan.

Dapatkan rangkuman informasi terkini dan tepercaya melalui saluran Berita Liputan6

Cerita Menkum Supratman Saat Diminta Prabowo Pangkas Aturan Berbelit

Menteri Imipas Sanksi Pegawai Terlibat Jual Beli Remisi

Polisi Tetapkan 9 Tersangka TPPO ABK KM Maulana 23

Bongkar Pasang Kabinet Prabowo untuk Kedelapan Kalinya

Menko Yusril: Terlalu Banyak Peraturan Kita Buat, Bikin Pusing

Titik Api Kebakaran Hutan dan Lahan Menggila di Sumatra

Kepala BPK Jateng Turut Terjaring OTT KPK di Klaten

BMKG Ungkap Penyebab Gempa Beruntun Guncang Sukabumi dan Bogor

Baru Dilantik, Kepala BNPB Langsung Verifikasi Data Kebakaran Hutan

banner 336x280