Produksi Nikel Olahan Nasional Diprediksi Terkoreksi pada 2026 Mendatang

Posted on
banner 336x280

Jakarta – Asosiasi yang menaungi pelaku usaha pemurnian, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), memperkirakan capaian produksi komoditas nikel olahan dari agenda hilirisasi domestik berpotensi menyusut sekitar 3,5% sampai 4% sepanjang tahun 2026. Penurunan volume tersebut diukur terhadap total realisasi produksi di tingkat nasional pada 2025 yang berhasil menembus angka 2,5 juta ton.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mengungkapkan bahwa kalkulasi penurunan tersebut diperoleh lewat perhitungan estimasi serapan maupun aktivitas pengolahan industri nikel domestik periode berjalan. Dirinya menerangkan bahwa volume pemrosesan nikel pada 2026 bakal melakoni tahap penyesuaian pasar terlebih dahulu menjelang pengoperasian pabrik-pabrik pengolahan anyar.

banner 468x60

"FINI meng-estimasi bahwa total produksi nikel olahan Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan akan mengalami penurunan sekitar 3,5 hingga 4% jika dibandingkan produksi tahun 2025 (total 2,5 juta ton Ni)," ucap Arif kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/10/2026).

Sebagai data pembanding, FINI memaparkan bahwa keseluruhan besaran hasil hilirisasi nikel sepanjang 2025 ditopang oleh 2,05 juta ton kelompok produk Nickel Pig Iron (NPI), Ferronickel (FeNi), serta Matte. Adapun sisa volume sebesar 450 ribu ton lainnya dihasilkan melalui proses hidrometalurgi yang melahirkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) beserta nikel sulfat.

"Pada tahun 2025 total produksi nikel nasional telah mencapai 2,5 juta ton nikel dalam bentuk produk intermediate (setengah jadi) yang terdiri dari 2,05 juta berupa produk-produk NPI, FeNi dan Matte, serta 450 ribu ton nikel dalam bentuk MHP – Nikel Sulfat," paparnya secara rinci.

Pelemahan kapasitas produksi pada 2026 ini diyakini cuma terjadi temporer mengingat kekuatan pengolahan mineral nikel Tanah Air diprediksi kembali melesat signifikan pada 2027. Akselerasi tersebut bakal didorong oleh rampungnya konstruksi fisik serta bergulirnya tahapan uji coba operasional (komisioning) dari rangkaian fasilitas pabrik berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL).

"Pada tahun 2027 akan ditandai oleh penambahan kapasitas produksi dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis HPAL yang akan selesai tahap konstruksinya, dalam waktu dekat memasuki tahapan komisioning dan operasi penuh," tambah Arif.

Ekspansi fasilitas HPAL tersebut dipastikan mengerek pasokan bahan baku MHP guna menyokong ekosistem sel baterai mobil listrik. Kapasitas pengolahan MHP dalam negeri yang semula berada di kisaran 450 ribu ton nikel pada 2025 ditargetkan melonjak tinggi hingga melampaui 900 ribu ton nikel menjelang pengujung 2027.

Rencana Pembatasan Fasilitas Smelter Nikel

Pada kesempatan sebelumnya, pihak regulator pusat mengkaji rencana moratorium alias pengetatan izin pendirian fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel yang sekadar menghasilkan komoditas kelas setengah jadi. Langkah evaluasi ini diambil demi merespons membanjirnya pasokan (oversupply) mineral nikel global yang berujung pada merosotnya banderol harga nikel dunia.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa mayoritas fasilitas smelter yang kini beroperasi secara riil masih menghasilkan produk tingkat menengah pada rentang 50-60%. Menurut Bahlil, limpahan pasokan internasional saat ini telah melampaui kebutuhan pasar hingga menyentuh 2,5 juta ton, sehingga menekan harga jual komoditas tersebut di bursa perdagangan internasional.

"Ini kan oversupply, makanya harganya lagi jatuh. Kita dapat pertimbangkan untuk industri yang setengah jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, bahkan mungkin kita melakukan moratorium, sementara yang kita dorong adalah industri-industri yang produk hilirnya langsung," tutur Bahlil di area perhelatan Investor Daily Summit 2026, Jakarta, dikutip Rabu (14/10/2026).

Bahlil menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk mengendalikan kuota produksi tambang domestik supaya kekayaan alam Indonesia tidak terdiskon di tengah pasar yang mengalami kejenuhan. Kendati kapasitas terpasang pabrik pengolahan di atas kertas tercatat masif, realisasi kegiatan teknis di lapangan bakal diselaraskan secara ketat terhadap dinamika pasokan dan permintaan global.

"Sekalipun kapasitas terpasang contoh katakanlah 10, mungkin yang akan bisa berproduksi selama kita masih terjadi oversupply tidak sampai 10. Itu yang kita akan atur ya. Kalau kita mengikuti terus permintaan smelter, itu harga kita pasti akan jatuh," sambung Bahlil.

Selain demi menjaga stabilitas level harga dan mengamankan penerimaan negara, intervensi kuota produksi tersebut krusial dalam merawat ketahanan cadangan mineral nasional. Bahlil menegaskan bahwa kekayaan tambang seperti nikel tidak dapat diperbarui layaknya sektor perkebunan.

"Kalau harganya lagi anjlok, jangan kita juga banjiri, nanti barang kita murah. Kita kan enggak mau barang kita dijual murah. Kalau nikel, batu bara, diambil kan enggak bisa berbuah. Jadi tolong kita jaga ini juga harus berkelanjutan untuk masa depan bangsa ya," pungkasnya.

banner 336x280