Investigasi Media Israel: Netanyahu Diduga Ubah Dokumen Peringatan Rahasia Serangan Hamas

Posted on
banner 336x280

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemimpin Pemerintahan Israel Benjamin Netanyahu terseret dugaan rekayasa dokumen terkait rentetan sinyal bahaya yang diperolehnya menjelang invasi pejuang Hamas pada Oktober 2023. Deretan fakta krusial dilaporkan sengaja dipangkas, bersamaan dengan pembelokan konteks diskusi strategis militer.

Hasil penelusuran mendalam ini dipaparkan melalui laporan investigatif media harian Israel, Yedioth Ahronoth, pada Rabu (8/10/2026), mengutip laporan dari kantor berita Anadolu Agency.

banner 468x60

Yedioth Ahronoth bersama kanal informasi Ynet, yang bernaung di bawah payung Yedioth Ahronoth Media Group, melakukan komparasi berkas setebal 55 lembar yang dipublikasikan kubu Netanyahu pada Februari terhadap notula asli, ikhtisar perundingan, serta berbagai pernyataan narasumber terkait.

Hasil komparasi mendalam tersebut membuktikan adanya pemotongan materi penting serta pergeseran redaksi dan substansi pembahasan, khususnya yang menyangkut sinyal kerawanan pertahanan dalam rentang bulan-bulan sebelum insiden Hamas meletus beserta proposal serangan terhadap kubu perlawanan tersebut.

Pada berkas rilisannya, sang perdana menteri mencitrakan dirinya sebagai figur sentral yang gencar mendesak eksekusi mati para petinggi Hamas. Sebaliknya, petinggi pertahanan senior Israel justru dituding menentang opsi keras itu demi menjaga suasana damai di Jalur Gaza.

Kendati demikian, lembaran autentik yang dibongkar dalam penelusuran tersebut membeberkan realitas bertolak belakang. Netanyahu justru dilaporkan berkali-kali berikhtiar mempertahankan kondisi damai, membatalkan persetujuan atas sejumlah skenario agresi terencana, serta meyakini posisi Hamas masih terkendali walau aparat intelijen telah menyuarakan tanda bahaya.

Pada April 2023, Pimpinan Shin Bet kala itu Ronen Bar bersama Panglima Pasukan Pertahanan Israel saat itu Herzi Halevi sejatinya telah menyarankan eliminasi berencana terhadap deretan tokoh penting Hamas di kawasan Gaza, sebut laporan investigasi.

Memasuki bulan berikutnya, Bar kembali menegaskan peringatan keras bahwa konfrontasi bersenjata di wilayah Gaza niscaya terjadi. Dirinya turut mendesak militer menyiapkan operasi pendahuluan sekaligus rangkaian pembunuhan tertarget.

Akan tetapi, Netanyahu justru beranggapan stabilitas ancaman masih terjalin kokoh lewat "keseimbangan pencegahan yang kuat" terhadap faksi Hamas, hingga akhirnya menolak mengesahkan proposal agresi militer yang diajukan kepadanya.

Penyelidikan tersebut juga menyingkap alarm peringatan berikutnya dari Bar pada Agustus 2023. Waktu itu, Bar menyatakan efektivitas penangkalan Israel atas potensi serbuan Hamas kian menyusut, seraya mendorong otoritas mempertimbangkan serangan pencegahan di Gaza.

Puncaknya pada 10 September 2023, Bar secara lugas memperingatkan Netanyahu mengenai ancaman genting berupa "situasi keamanan yang serius" dengan probabilitas tinggi bersatunya beberapa front pertempuran sekaligus.

Mengabaikan rentetan lampu merah tersebut, Netanyahu malahan menginstruksikan target kebijakan agar masa perayaan liburan mendatang berjalan dalam suasana "setenang mungkin".

Laporan Yedioth Ahronoth menambahkan bahwa berkas terbitan Netanyahu edisi Februari memang tetap mencantumkan analisis intelijen terkait eskalasi kemampuan militer Hamas yang berkembang dalam "kecepatan sedang".

Walau demikian, sebuah penggalan penting sengaja dilenyapkan. Instruksi mendesak supaya militer Israel lekas melancarkan langkah antisipasi sekalipun berpotensi menyulut konflik terbuka lenyap dari dokumen versi sang perdana menteri.

Hingga akhirnya, gelombang agresi Hamas pada 7 Oktober 2023 berujung pada gugurnya sekitar 1.200 nyawa di Israel serta memicu ledakan peperangan dahsyat di Jalur Gaza.

banner 336x280