Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, menggarisbawahi keharusan untuk melindungi keberlangsungan industri kereta api domestik.
Pernyataan tersebut dilontarkan guna menanggapi wacana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI yang berniat mendatangkan rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) bekas pakai asal Jepang.
AHY menyampaikan dirinya belum bisa memberikan tanggapan mendalam lantaran masih menjadwalkan pembicaraan bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi serta Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin.
Kendati demikian, dirinya menggarisbawahi bahwa setiap agenda impor bersama mitra internasional semestinya tetap menomorsatukan kemajuan sektor manufaktur di dalam negeri.
"Kalau ada kerja sama dengan negara-negara lain, termasuk Jepang, saya rasa adalah sebuah kewajaran, tapi yang paling penting semangatnya juga adalah bagaimana industri perkeretaapian nasional juga hidup, berkembang," ucap AHY saat dijumpai pada Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (7/10).
Dirinya tidak menampik pengadaan armada kereta (trainset) tambahan yang mutakhir serta berdaya tampung besar sangat mendesak demi memfasilitasi pergerakan warga.
Walau begitu, Menko AHY kembali menegaskan tekadnya supaya kedaulatan industri transportasi rel di Tanah Air bisa terus dipupuk.
Berdasarkan pandangannya, kemitraan pengadaan sarana transportasi dari mancanegara sepatutnya dibarengi pertukaran keahlian antarnegara yang terlibat secara nyata.
"Ada transfer of technology yang kemudian kita kembangkan sendiri menjadi inovasi domestik yang dibutuhkan untuk ke depan," tutur AHY.
Pada momen serupa, AHY membeberkan agenda otoritas negara yang sedang menggenjot ekspansi prasarana rel kereta api ke berbagai penjuru.
Mengenai infrastruktur fisik, pemerintah berencana meluaskan rute sekaligus mengaktifkan ulang lintasan-lintasan rel lama.
Ia memaparkan bentangan rel aktif di Indonesia saat ini mencapai kisaran 7.000 kilometer, sementara lintasan mati yang menanti reaktivasi jumlahnya masih berlimpah.
Peningkatan sarana ini turut meliputi pemasangan jalur rel anyar pada rute-rute strategis demi melayani perjalanan penumpang maupun kelancaran rantai pasok barang logistik.
Sebagai ilustrasi, AHY menyebutkan lumbung komoditas utama di kawasan Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi amat memerlukan topangan jaringan kereta angkutan logistik.
Di sisi lain, proyek importasi sarana KRL seken asal Jepang oleh pihak KAI tengah menghadapi kendala pembatasan umur pakai sarana.
Unit KRL eks Jepang yang ditargetkan perseroan tercatat telah berumur 25 tahun, sedangkan regulasi Kementerian Perdagangan (Kemendag) mematok ambang batas maksimal impor kereta bekas yakni 20 tahun.
Rangkaian berumur seperempat abad yang dibidik KAI tersebut diproyeksikan masih bakal beroperasi melayani penumpang di lintasan Tanah Air sepanjang tempo 10 tahun.








