Liputan6.com, Jakarta – Pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan bahwa kerusakan bahan pangan adalah pemicu utama yang paling kerap dijumpai pada insiden gangguan kesehatan di tengah bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan penjelasan Sudaryono, kondisi makanan tidak layak konsumsi ini paling banyak terdeteksi pada menu lauk pauk serta sajian sayuran. Dirinya menegaskan menu yang bersumber dari protein hewani, seperti daging ayam, telur unggas, ikan laut/tawar, maupun daging merah, menjadi komponen yang sangat mendominasi.
“Sampai dengan sejauh ini saya kan 50 hari ya jadi kepala BGN, kasus adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan itu lauk dan sayur,” tutur Sudaryono selepas menghadiri agenda rapat dengar pendapat bersama jajaran Kepala BPOM dan anggota Komisi IX DPR RI, Kamis (17/9/2026).
“Lebih banyak lauk, lebih banyak didominasi oleh protein hewani. Apakah ayam, telur, ikan, daging dan sebagainya, dengan olahan lainnya,” tambahnya kemudian.
Guna menghindari terulangnya kasus serupa, Sudaryono memberikan catatan tegas perihal krusialnya kepastian mutu komoditas mentah sebelum masuk proses pemasakan.
“Maka penting ya kami sudah sampaikan di dalam bahwa salah satunya adalah bahan bakunya mesti benar. Mau masaknya benar kalau bahan bakunya sudah busuk ya enggak tetap aja,” tegasnya menerangkan.
Lembaga BGN lantas menerapkan sistem verifikasi dan pendataan ketat saat komoditas tiba di area dapur saji untuk menjamin kesesuaian pesanan.
“Sehingga kami lakukan absensi penerimaan barang,” terang Sudaryono.
Rancang Skema Pasar Digital Khusus
Tak hanya sistem verifikasi fisik, BGN kini sedang menyiapkan tata kelola pasar elektronik (marketplace) dalam pengadaan pasokan bahan pokok, terutama ragam protein hewani. Platform terintegrasi ini dirancang agar mutu terjamin, transparansi nilai transaksi terjaga, serta menutup celah terjadinya penggelembungan dana.
“Supaya bahan-bahan baku protein hewani khususnya ini yang spesial handel ini betul-betul kualitasnya benar, dibeli dengan harga yang benar, tidak ada mark up,” ucapnya.
Sudaryono menggarisbawahi komitmen supaya standar barang mentah yang dipesan sama persis dengan yang mendarat di dapur pengolahan.
“Jangan sampai beli katanya beli harga, beli kualitas A, tapi ternyata yang datang kualitasnya D,” pungkasnya.
Simak informasi teraktual serta tepercaya pada kanal Berita Liputan6







