Wamenkeu Juda Agung Tegaskan Pengambil Kebijakan Ekonomi RI Selalu Pro-Pertumbuhan

Posted on
banner 336x280

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memastikan bahwa Menteri Keuangan Suahasil Nazara senantiasa mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional atau bersikap pro-growth.

Berdasarkan pandangan Suahasil, seluruh pemangku kebijakan perekonomian di tanah air memiliki arah pandang selaras guna memacu ekspansi ekonomi, salah satunya diwujudkan lewat instrumen fiskal.

banner 468x60

Pernyataan ini diutarakan oleh Juda menjawab pertanyaan perihal apakah Suahasil bakal meneruskan garis kebijakan pro-pertumbuhan serupa mantan Menteri Keuangan terdahulu, Purbaya Yudhi Sadewa.

"Saya kira semua kita di sini pro-growth, benar enggak? Kita semua yang di ruangan ini semua pro-growth. Seluruh pengambil keputusan di Indonesia akan pro-growth," ungkap Juda pada agenda media gathering, Kamis (1/10).

Juda memaparkan bahwa strategi untuk mengakselerasi perekonomian mencakup tiga pilar fundamental, yakni aspek pertumbuhan (to grow), perlindungan sosial (to protect), serta pembaruan struktural (to transform).

Dirinya mencontohkan pengalokasian bantuan sosial (bansos) yang berfungsi mengamankan daya beli warga rentan sehingga pada muaranya secara langsung menopang laju roda ekonomi.

"Kalau enggak ada bansos, ini masyarakat yang rentan enggak bisa melakukan konsumsi. Karena ada bansos, dia bisa melakukan konsumsi dengan baik. Jadi ini pro-growth. Tiga tadi itu pro-growth," tuturnya.

Kendati demikian, Juda memberi penekanan bahwa rangkaian kebijakan ekspansif tersebut wajib tetap berada pada jalur kehati-hatian fiskal (fiscal prudence).

Pemerintah, lanjut dia, memiliki tanggung jawab mengendalikan defisit anggaran serta rasio utang negara agar senantiasa patuh pada batasan legal undang-undang.

"Tapi semua ini di dalam koridor prudence. Fiskal yang prudence. Indikatornya, ya defisitnya di bawah 3 persen. Saat ini kan gitu kan. Kita sepakatnya kan gitu di undang-undang. Utangnya dijaga di bawah 60 persen," paparnya.

Juda turut menggarisbawahi bahwa realisasi posisi rasio utang pemerintah saat ini sesungguhnya masih terkendali di bawah angka 40 persen.

Menurutnya, instrumen kebijakan fiskal secara mendasar memang dirancang mengemban peran penting sebagai stimulan utama pendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Kendati begitu, fungsi pengungkit tersebut wajib berjalan beriringan bersama kedisiplinan prinsip kehati-hatian demi menjamin kesehatan dan ketahanan postur anggaran negara.

"Semua pro-growth, apalagi fiskal. That’s the role of fiscal policy. To grow, but at the same time kita harus jaga prudential. Jaga, ya hati-hati. Menjaga fiskal ini jangan sampai jebol," tegas Juda.

Ia mengingatkan jika ketahanan fiskal sampai runtuh, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah akan merosot drastis serta menyurutkan minat para investor dan kreditur.

"Kalau jebol, ya siapa yang mau memberikan? Enggak ada yang masuk, enggak ada yang mau memberikan pinjaman. Enggak ada yang mau invest," pungkasnya.

banner 336x280