Gebrakan Pentagon: Menhan AS Pete Hegseth Siap Pangkas 20 Persen Jenderal dan Laksamana

Posted on
banner 336x280

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan kembali agenda besarnya untuk memangkas hingga 20 persen jenderal serta laksamana militer. Pemimpin Pentagon tersebut juga menegaskan sikap keras bahwa jajarannya sama sekali tidak akan memberi ruang bagi individu yang dinilai aneh atau bermental lemah dalam struktur pertahanan AS.

Disitat dari The Guardian edisi Kamis (1/10/2026), Hegseth kembali melontarkan kecaman keras terhadap agenda keberagaman seraya membantah isu anjloknya moral prajurit sebagai kabar dusta belaka. Dirinya malah mengklaim departemen yang dipimpinnya sukses mengamankan rekor tertinggi terkait retensi personel aktif militer negara tersebut.

banner 468x60

Sebagai bukti, Hegseth mencontohkan awak kapal induk USS Abraham Lincoln yang sempat disorot publik akibat problem logistik dan gangguan kesehatan mental setelah berlayar hampir sembilan bulan. Ia menyatakan bahwa sekitar 80 persen personel di atas kapal perang tersebut berhasil dipertahankan dinasnya.

Ketika berbicara di hadapan jajaran bintara serta tamtama di Markas Korps Marinir Quantico, Virginia, pada hari Rabu, Hegseth membanggakan arah kebijakan anti-keberagaman Pentagon yang dipacu kencang oleh rezim Donald Trump.

"Fokus satu-satunya, seperti yang Anda tahu, dalam formasi Anda haruslah pelatihan, kesiapan, akuntabilitas, disiplin, dan daya mematikan," papar Hegseth.

"Dan ketika Anda mengejar hal-hal itu, Anda tidak perlu merasa sungkan… para pengeluh, para ideolog, dan mereka yang berkinerja buruk tidak lagi memegang kendali," tegasnya.

"Tetapi ada baiknya dikatakan lagi, agar berita palsu memahaminya. Kami bukan lagi departemen ‘woke’ atau departemen yang lemah. Terjemahan sederhananya: tidak ada orang gemuk, tidak ada transgender, tidak ada orang berjanggut, tidak ada orang aneh, tidak ada orang lemah, tidak ada radikal. Hanya pejuang."

Hegseth menegaskan perwira tinggi yang bersikukuh mempertahankan paham ‘woke’, atau yang memandang kendali otoritas sipil atas angkatan bersenjata sebatas anjuran biasa, dipastikan tersingkir dari kesatuan. Ia juga mengecam pemberitaan media yang dinilainya manipulatif soal masa dinas operasi, serta melabeli kabar demoralisasi pasukan sebagai materi propaganda bikinan musuh.

Kenyataannya, tercatat delapan prajurit Angkatan Laut di USS Abraham Lincoln melakukan percobaan bunuh diri sepanjang penugasan panjang dalam pertempuran AS melawan Iran. Berlayar nonstop selama 286 hari di samudera luas, seluruh awak kapal induk tersebut baru merapat di resor tepi pantai Thailand pada 1 September lalu.

Masa tugas rombongan kapal perang itu mulanya diproyeksikan tuntas pada Mei, namun perintah perpanjangan mendadak terpaksa dikeluarkan menyusul meletusnya pertempuran sengit di Iran pada periode Trump.

Di sela pidatonya, Hegseth turut membeberkan beberapa terobosan baru Pentagon. Salah satu gagasan utamanya adalah pembentukan satuan riset masa depan perang yang melibatkan taipan Elon Musk, loyalis Trump Palmer Luckey, serta eks Ketua Parlemen AS Newt Gingrich. Perusahaan rintisan pertahanan Luckey, Anduril Industries, berhasil mengantongi kontrak kerja sama senilai miliaran dolar AS sepanjang tahun kemarin.

Tak luput, Hegseth menyerang kampus Ivy League dan perguruan tinggi seni liberal yang ditudingnya sekadar mencetak agenda ‘woke’ berkedok kesetaraan. Kritik pedas ini terasa janggal sebab dirinya sendiri mengantongi ijazah dari dua universitas prestisius Ivy League, Harvard dan Princeton.

Sebagai langkah lanjutan, Pentagon memilih menjalin kolaborasi strategis bersama perguruan tinggi konservatif untuk saluran kaderisasi masa depan, antara lain Liberty University, Hillsdale College, Louisiana State University, Mississippi University, serta Tuskegee University.

banner 336x280