Fluktuasi ekonomi global serta penguatan daya kompetisi saat ini menjadi rintangan utama sektor manufaktur Indonesia.
JAKARTA — Sektor manufaktur di tanah air masih harus berhadapan dengan beragam rintangan akibat dinamika perekonomian internasional yang tak menentu. Menteri Perindustrian (Menperin) M. Sarmuji diharapkan dapat bergerak cepat memperkokoh pilar industri domestik melalui jaminan suplai material mentah, efisiensi birokrasi izin, keterjangkauan sumber daya energi, hingga jaminan iklim berusaha.
Pandangan tersebut diutarakan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian yang sempat menjabat sebagai Menteri Perindustrian periode 2014-2016, Saleh Husin, merespons rotasi pimpinan di kementerian terkait dalam perombakan Kabinet Merah Putih.
Presiden Prabowo Subianto resmi melantik M. Sarmuji guna mengemban amanah Menperin menggantikan posisi Agus Gumiwang Kartasasmita melalui kocok ulang susunan kabinet di Istana Negara, Kamis (1/10/2026).
Saleh mengungkapkan, riwayat Sarmuji sebagai wakil rakyat di parlemen serta rekam jejaknya di komisi yang bermitra dengan Kementerian Perindustrian merupakan bekal kuat. Kapabilitas ini diyakini mampu membantunya mengurai berbagai benang kusut yang membayangi ranah industri.
"Terkait dengan ditunjuknya Pak Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian, tentu harapan saya, karena beliau sudah lama menjadi anggota DPR dan pernah di komisi yang menjadi mitra Kementerian Perindustrian, tentu dengan sendirinya mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi industri dalam negeri. Apalagi dalam situasi ekonomi global yang masih terus bergejolak," ujar Saleh.
Saleh menegaskan terdapat empat pilar pokok yang mesti diprioritaskan Menperin Sarmuji demi memelihara ketahanan dan daya saing pabrikan nasional secara berkelanjutan.
Pertama, menjamin ketersediaan material mentah bagi rantai manufaktur. Saleh menilai, keterjaminan pasokan bahan baku merupakan komponen krusial agar operasional pabrik sanggup bergerak tanpa hambatan.
Kedua, merampingkan serta mempermudah prosedur perizinan usaha. Menurutnya, birokrasi regulasi yang lamban berpotensi memicu lonjakan pengeluaran korporasi yang pada akhirnya membebani efisiensi bisnis industri lokal.
Ketiga, membuka akses energi yang memadai dengan tarif yang kompetitif. Suplai daya listrik serta bahan bakar berbiaya murah dinilai menjadi pilar fundamental dalam menstabilkan struktur operasional manufaktur.
Keempat, menyediakan kepastian berusaha. Saleh menuturkan bahwa stabilitas hukum serta proteksi regulasi sangat mendasar agar penanam modal mampu merancang agenda ekspansi finansial jangka panjang.
"Saya kira kalau keempat hal ini bisa dituntaskan oleh Pak Menperin Sarmuji, insya Allah industri nasional kita akan tumbuh pesat dan maju," ujar Saleh.
Pada kesempatan serupa, Saleh mengapresiasi Agus Gumiwang Kartasasmita atas pengabdian tugasnya sebagai menteri. Ia menaruh harapan besar agar gagasan Agus tetap diserap guna memperkuat masa depan dunia industri.
"Saya juga mengucapkan selamat kepada Pak Agus Gumiwang yang telah paripurna melaksanakan tugas dengan baik. Dari pengalamannya, diharapkan beliau bisa terus memberikan masukan untuk kemajuan industri dalam negeri," kata Saleh.








