Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan komitmen pemerintah untuk memacu hilirisasi sumber daya alam, khususnya sektor pengolahan bauksit agar menjadi aluminium.
Dirinya menilai, hilirisasi mineral tambang ini sanggup menghadirkan nilai tambah puluhan kali lipat jika dibandingkan dengan penjualan bauksit mentah secara langsung.
Prabowo kemudian memaparkan contoh pembangunan ekosistem industri aluminium terpadu di tanah air, mulai rantai pemrosesan bauksit ke alumina sampai menjadi produk aluminium.
"Sebagai contoh, kalau kita bikin smelter aluminium di Indonesia, bauksit menjadi alumina, alumina menjadi aluminium, itu kenaikannya luar biasa ada yang 32 kali, ada yang 66 kali. Dan ini sedang kita kerjakan semua," jelasnya saat berdiskusi dengan wartawan senior serta pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026), tayang di CNBC Indonesia.
Ia memprediksi agenda hilirisasi bauksit bakal menyumbang keuntungan ekonomi sangat besar bagi negara. Memasuki 2030 mendatang, perolehan nilai dari hilirisasi bauksit ditaksir menembus angka US$15 miliar sampai US$16 miliar.
"Kita perkirakan 2030 dari bauksit kita bisa mencapai 15 sampai 16 miliar dolar," tuturnya.
Di samping itu, realisasi industri hilir bauksit memerlukan permodalan raksasa. Prabowo menghitung kebutuhan modal proyek ini berkisar US$26 miliar dan berpotensi membuka hingga 229.000 lapangan pekerjaan baru.
"Cadangan bauksit kita keenam terbesar di dunia. Bauksit menjadi aluminium, building material 36,9 kali, 40 kali nilai tambah yang sekarang enggak ada di Indonesia! This is our strategy, ini tujuan kita," tegas Prabowo.








