Tekanan AS Kian Mencekik Iran, Mampukah China Hadir Menjadi Penyelamat Ekonomi Teheran?

Posted on
banner 336x280

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan kembali terbang ke Beijing pada hari Rabu guna melangsungkan pembicaraan tingkat tinggi bersama Menteri Luar Negeri China Wang Yi, di tengah eskalasi konflik bersenjata antara kubu Amerika Serikat (AS), Israel, serta Iran.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, Rabu (16/9/2026), lawatan kenegaraan ini menandai kunjungan kali kedua semenjak bentrokan militer antara poros AS-Israel melawan Teheran meletus pada penghujung Februari lalu. Pertemuan diplomatik yang krusial tersebut berlangsung sesaat menjelang agenda pertemuan tatap muka antara Presiden AS Donald Trump bersama Presiden China Xi Jinping di Washington pada akhir September yang akan datang.

banner 468x60

Ketika berpidato pada forum konferensi tingkat tinggi aliansi BRICS di New Delhi awal minggu ini, Presiden Xi secara terbuka mengajak jajaran negara berkembang (Global South) agar mengambil peran nyata demi memulihkan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Kendati tidak secara langsung mengajukan inisiatif penengah bilateral antara Washington dan Teheran, pemimpin China tersebut menyodorkan proposal de-eskalasi yang memuat empat prinsip utama, yakni hidup berdampingan secara damai, penghormatan penuh terhadap kedaulatan wilayah, kepatuhan mutlak pada aturan internasional, serta keselarasan antara kemajuan pembangunan dan sektor keamanan.

Langkah diplomasi internasional dari Beijing tersebut mendapatkan sambutan positif dari mantan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif. Dirinya menilai terobosan itu sanggup menurunkan ketegangan geopolitik yang sedang memanas di kawasan tersebut.

"Inisiatif konstruktif Xi menawarkan peluang tepat waktu untuk meredakan ketegangan dan menunjukkan bahwa diplomasi multilateral adalah satu-satunya jalur yang layak menuju stabilitas," tuturnya.

Sebaliknya, Hamed Vafaei, yang merupakan Peneliti sekaligus Profesor Sastra China dari Universitas Teheran, berpandangan bahwa anggapan Xi sedang mengusulkan mediasi resmi hanyalah penafsiran sepihak dari pidato presiden tersebut, bukan realitas faktual.

Ancaman Isu Nuklir dan Sanksi AS

Saat melangsungkan pembicaraan, Araghchi turut diproyeksikan membahas kelanjutan program nuklir Teheran bersama pihak Beijing. Minggu kemarin, pemerintah AS berkolaborasi dengan para mitra Eropa berhasil memengaruhi badan pengawas nuklir PBB (IAEA) untuk melaporkan Iran ke Dewan Keamanan PBB.

Tindakan rujukan diplomatik ini tercatat sebagai yang pertama dalam dua dekade paling akhir, setelah masa lampau sempat memicu penerbitan enam butir resolusi serta penjatuhan paket pembatasan ekonomi berskala masif.

Walaupun demikian, langkah politik saat ini dinilai banyak kalangan sekadar berstatus simbolis, mengingat China dan Rusia memiliki hak veto permanen guna menggagalkan sanksi segar di Dewan Keamanan.

Gempuran politik dari blok Barat terus digencarkan lewat berbagai jalur strategis. Pimpinan urusan nuklir Iran, Mohammad Eslami, bahkan dicekal dari perhelatan Konferensi Umum IAEA di Wina sepanjang pekan ini lantaran aktivasi klausul sanksi snapback dari koalisi negara Eropa.

Pada periode yang bersamaan, Washington menggelar "Operasi Pengucilan Ekonomi" demi mengisolasi kekuasaan Teheran sekaligus melumpuhkan perekonomian negeri itu melalui blokade armada laut pada deretan pelabuhan selatan Iran.

Pukulan embargo AS tersebut turut membidik jejaring institusi eksternal. Tepat pada hari Senin, Departemen Keuangan AS secara resmi menjatuhkan paket hukuman kepada institusi keuangan VTB Bank dari Rusia.

Kendati dokumen sanksi tidak terang-terangan menyebut China, VTB sendiri memegang posisi bank terbesar kedua Rusia dan merupakan institusi keuangan Rusia tunggal yang mengantongi izin cabang operasional di China daratan dengan sambungan langsung menuju sistem kliring perbankan nasional China.

Minyak, Satelit, dan Reaksi Trump

Meskipun dibayangi ancaman penalti ekonomi global, Negeri Tirai Bambu konsisten memegang predikat sebagai pembeli komoditas minyak mentah nomor satu bagi Teheran. Pihak Beijing terus menampung suplai minyak Iran yang ditempatkan secara khusus di titik aman agar terhindar dari jangkauan blokade patroli AS.

Kerja sama sektor pertahanan kedua kubu pun memicu sorotan tajam di Washington belakangan ini. Harian The Wall Street Journal mengabarkan keberhasilan Iran memperoleh data citra satelit beresolusi tinggi milik korporasi China sesaat sebelum melancarkan gempuran fatal terhadap basis militer AS di Yordania yang merenggut nyawa tiga personel serdadu AS.

Secara mengejutkan, saat dimintai tanggapan oleh awak media perihal bocoran intelijen itu, Presiden AS Donald Trump justru memperlihatkan reaksi yang tenang serta tampak menyepelekan peristiwa tersebut.

"Mereka (China) pada dasarnya melakukan apa yang kita lakukan. Ketika mereka mengatakan bahwa China memata-matai kita, saya katakan Anda benar, dan kita juga memata-matai mereka," ucapnya.

Tanpa menunjukkan kemarahan diplomatik, Trump bahkan secara terbuka melayangkan sanjungan terhadap sikap tenang Presiden Xi Jinping.

"Saya pikir dia telah berperilaku cukup baik," pungkasnya.

banner 336x280