Liputan6.com, Jakarta – Publik dihebohkan oleh terbentuknya daratan anyar pada area perairan sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan. Sejumlah anggapan yang beredar luas di tengah khalayak mengaitkan fenomena ini dengan kemunculan gunung api baru yang kemudian dijuluki sebagai 'cucu' Gunung Krakatau.
Menanggapi hal tersebut, Pengajar Program Studi Teknologi Geologi dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Happy Christin Natalia, menegaskan bahwa kesimpulan itu belum mempunyai dasar konfirmasi ilmiah yang kuat. Berdasarkan perspektif disiplin ilmu geologi, hamparan daratan itu untuk saat ini cenderung merupakan akumulasi endapan material vulkanik sisa letusan GAK.
"Kalau dari geologi sendiri kami melihatnya sebagai kumpulan material dari erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri," ungkap Happy pada hari Kamis (24/9/2026).
Lebih jauh Happy menguraikan, berbagai material vulkanis yang terlempar keluar ketika fase erupsi berlangsung bisa tergelincir, jatuh, lantas masuk ke laut sebelum akhirnya mengendap terdorong pergerakan arus air di area perairan sekeliling gunung api itu.
"Semua materialnya begitu longsor ke laut itu akan terendapkan mengikuti arah arus lautnya," papar dirinya secara gamblang.
Mengenai penyebutan sensasional terkait "cucu Krakatau", Happy berpandangan bahwa label itu murni opini serta asumsi yang terlanjur viral di tengah warga. Fakta geologis terkini belum memperlihatkan indikasi terbentuknya pipa ventilasi magma tersendiri maupun konstruksi gunung berapi baru di lokasi tersebut.
"Kalau mau mengatakan adanya tumbuh gunung api baru, yang cucu Krakatau-nya itu, kayaknya masih butuh penelitian lanjut," tegas Happy menerangkan.
Dimensi Hamparan Tanah Berpeluang Meluas
Happy pun menggarisbawahi bahwa luas area pulau buatan alam tersebut masih berpeluang mengalami dinamika perubahan ukuran atau kian melebar di masa-masa mendatang.
Kondisi perkembangan tersebut sepenuhnya ditentukan oleh seberapa sering serta seberapa besar tingkat intensitas letusan Gunung Anak Krakatau ke depannya.
"Kalau Gunung Anak Krakatau terus-menerus erupsi dalam durasi waktu setahun, dua tahun sekali, maka untuk daratannya juga pasti akan jauh lebih luas lagi. Karena akumulasinya akan ada terus," tuturnya kembali.
Oleh sebab itu, Happy menekankan pentingnya riset saintifik berkala serta pemeriksaan geologis secara langsung ke lapangan guna meneliti formasi internal beserta komponen fisik pembentuk daratan anyar tersebut secara definitif dan menyeluruh.
Pantau sajian informasi aktual terpercaya lainnya lewat kanal Berita Liputan6.








