Pusat Berita yang Hoki Punya
Beritahoki.com
/ BERITA HOKI / Teknologi ini bisa bantu atasi kecurangan UN online di Indonesia

Teknologi ini bisa bantu atasi kecurangan UN online di Indonesia

Tekno Hoki

BeritaHoki.com – Ujian Nasional (UN) tingkat SMA dan sederajat tinggal menghitung hari. Di beberapa sekolah terpilih, UN akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem Computer Based Test (CBT). Dan sama dengan tes lainnya, ujian tipe online ini rawan tindak kecurangan.

Nah, untuk menghindari kecurangan seperti mencontek dan sebagainya, mungkin teknologi pengawas online buatan Amerika ini bisa dimanfaatkan. Salah satu contoh teknologi anti-contek berbentuk software komputer itu adalah Proctortrack.

Software yang diciptakan oleh Verificient Technologies diklaim sebagai software pengawas ujian pertama yang dapat beroperasi secara otomatis. Bahkan, perusahaan pembuatnya menyatakan bila Proctortrack sudah sukses dipakai untuk mengawasi ujian ribuan pelajar, seperti mahasiswa di Universitas Rutgers, Amerika.

Penerapan software anti-contek ini juga tergolong mudah dan hanya membutuhkan perangkat tambahan berupa kamera webcam. Setelah dipasang di komputer peserta ujian, secara otomatis Proctortrack akan memindai wajah untuk proses pencocokan identitas ujian.

Ketika peserta mulai mengerjakan ujian, Proctortrack akan memberikan tanda berupa tombol berwarna merah yang menandakan si software sedang melakukan pengawasan. Peserta pun bisa melihat wajahnya di sebuah jendela kecil di layar komputer.

Apabila peserta terpantau melakukan hal-hal mencurigakan, maka secara otomatis Proctortrack akan memberikan tanda pelanggaran. Contoh hal-hal yang dianggap aksi mencontek menurut Proctortrack adalah menoleh, mengambil pensil atau benda lain yang terjatuh, hingga menggaruk-garuk kepala.

Setelah ujian selesai, pengawas ujian ‘asli’ tinggal masuk ke server Proctortrack sekolah dan melihat video-video peserta ujian. Dan dengan keberadaan tanda pelanggaran yang ada, sangat mudah untuk melihat siapa saja yang mencontek atau melakukan tindakan curang lainnya.

Sayangnya, tidak sedikit pihak yang mengecam penggunaan software anti-contek seperti Proctortrack, khususnya dari kalangan pelajar. Mereka mengaku bila software tersebut terlalu mengekang.

“Aku merasa penerapan software anti-contek terlalu berlebihan,” ucap Betsy Chao, salah satu mahasiswi Universitas Rutgers yang menggalang kampanye penolakan software anti-contek untuk ujian online, New York Times (06/04).

Untuk saat ini penolakan tersebut memang cukup beralasan. Sebab, hal-hal sepele bisa dianggap pelanggaran, contohnya perubahan cahaya di ruangan ujian. Selain itu, teknologi seperti ini terinspirasi dari software pengawasan teroris yang biasa terdapat di kamera keamanan bandara.

Comments are disabled
Rate this article