Pusat Berita yang Hoki Punya
Beritahoki.com
/ BERITA DUNIA / Perlakuan keras sang militan

Perlakuan keras sang militan

BERITA DUNIA

BeritaHoki.com - Mobil-mobil polisi telah dicat ulang dan dijadikan mobil “polisi Islam”. Wanita dilarang mengenakan pakaian dengan warna-warna cerah dan bergambar. Rumah-rumah warga Syiah dan lainnya kini diberi tanda-tanda yang menyatakan rumah-rumah itu adalah milik Negara Islam (IS), dulu dikenal sebagai ISIS. Semua orang berjalan dalam ketakutan di tengah pemerintahan baru penuh teror. 

Itulah kehidupan seperti yang ada di Mosul, Tikrit dan kota-kota lain di Irak utara dan barat, yang kini berada di bawah kendali kelompok militan Islam itu, setelah operasi militer mereka yang kilat dan cepat, yang membuat kewalahan tentara Irak pada Juni lalu, seperti dilansir situs the Huffington Post, Selasa (5/8). 

Kehidupan baru bagi warga ini berarti keputusan harian tentang pakaian dan razia untuk membasmi agama minoritas dalam sebuah kampanye untuk memaksakan aturan Islam yang ketat di kota-kota yang sebelumnya memberikan toleransi kepada beberapa agama selama berabad-abad. 

Warga meradang pada perubahan radikal ini dan beberapa di antaranya mulai memberontak terhadap para militan ketika mereka mencoba untuk “membersihkan” daerah apapun dan siapapun yang dianggap non-Islam, di mana seperti banyak warga Kristen di Mosul telah temukan bahwa pilihan mereka satu-satunya adalah melarikan diri. 

“Saya terkejut ketika saya mendengar keputusan baru memaksa saya untuk memakai jilbab dan benar-benar menutup wajah saya,” kata Mais Mohamad, 25 tahun, seorang apoteker di Mosul, kota terbesar kedua di Irak. “Saya tidak bisa melakukan itu, saya selalu bebas untuk memakai apa saja yang saya suka. Saya tidak bisa menjalani sisa hidup saya dengan wajah tertutup.”

Para militan, sebuah kelompok sempalan Al-Qaidah, awalnya terkonsentrasi pada penyediaan layanan seperti sanitasi dan memulihkan ketertiban. Kelompok, yang bersikeras disebut Negara Islam i(IS) itu, mengeluarkan surat keputusan agama segera setelah mengambil alih kota.

Selama beberapa pekan terakhir, kelompok ini telah mulai menindak dalam upaya untuk memenuhi ambisinya buat menciptakan wilayah Islam mencakup Irak dan tetangganya Suriah. 

“Negara Islam Irak dan Suriah (nama asli kelompok) itu memutuskan bahwa siapa saja yang mengucapkan nama lama mereka akan mendapatkan 70 cambukan,” kata Ghaida’a al-Rasool, seorang dokter di Mosul. “Nama baru mereka hanya Negara Islam.” 

Kelompok ini telah membentuk pengadilan Islam dikendalikan oleh mufti, atau tokoh agama. Para anggotanya secara teratur melewati jalan-jalan menggunakan truk dengan pengeras suara untuk menginformasikan warga tentang perubahan. 

“Mereka telah mengatakan kepada pedagang pakaian untuk menjual apa yang mereka miliki dalam waktu 20 hari dan kemudian hanya diperbolehkan menjual jubah,” kata Saad Al-Hayali, seorang insinyur di Mosul, mengacu kepada, jubah satu helai yang dikenakan oleh umat Islam di seluruh Timur Tengah. “Mereka juga telah dilarang mempunyai ruang ganti di dalam toko.” 

Lebih mengkhawatirkan bagi warga adalah langkah Negara Islam untuk membersihkan basisnya. Warga Kristen dan warga minoritas lainnya diberi ultimatum: pindah agama menjadi Islam atau menghadapi eksekusi. 

“Saya meninggalkan rumah saya ketika kami menerima ancaman,” ujar Abir Gerges, 45 tahun, seorang guru Kristen yang melarikan diri ke Irbil, sebuah kota di Kurdistan, wilayah semi otonom Irak dilindungi oleh kekuatan militer sendiri. 

“Saya mengatakan kepada suami saya, kita harus pergi,” ucap Gerges, seorang ibu mempunyai tiga anak laki-laki. “Namun dia dengan ragu-ragu mengatakan, bagaimana mungkin saya bisa meninggalkan rumah yang diwarisi orang tua saya? Tapi saya mengatakan kepadanya bahwa mereka (ISIS) mungkin akan membunuh kita dan membunuh anak-anak kita di depan kami. Apa yang akan kita lakukan jika itu terjadi? Jadi dia memutuskan untuk mendengarkan saya, dan kami mengambil uang dan perhiasan serta tas pakaian dan pergi.”

Gerges dan keluarganya dengan cepat melihat ruang lingkup aturan para militan ketika mereka tiba di sebuah pos pemeriksaan jauh di luar Kota Mosul. 

“Saya memakai jilbab, berusaha bersembunyi, tetapi mereka bertanya apakah kami warga Kristen,” kata Gerges. “Kami sangat takut untuk berbohong kepada mereka, jadi kami mengatakan iya. Lalu salah satu dari mereka, bertopeng, maju ke arah saya dan berkata, ‘Anda harus melepaskan semua perhiasan yang Anda kenakan. Sekarang menjadi properti Negara Islam’. Mereka juga menyita semua uang suami saya. Setelah itu, mereka berkata, ‘Sekarang Anda bisa pergi. Itu hukuman karena penolakan Anda untuk menjadi Muslim’.”

Para penguasa baru ini juga telah memusnahkan jejak gereja dan kuil-kuil kuno. 

“Gereja-gereja ditutup,” kata Al-Rasool, seorang dokter di Mosul. “Kemarin, saya melihat sebuah gereja tua di jalan di distrik bersejarah Ras al-Kur. Pintu gereja ditutup dengan semen dan blok.”

Beberapa warga Kristen dan kelompok muslim minoritas tetap hidup diam-diam sebab takut ketahuan.

Comments are disabled
Rate this article