Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Pusat Berita yang Hoki Punya
Beritahoki.com
/ BERITA HOKI / Menikmati Lek Tau Suan, Bubur Bercampur Cakwe Garing dengan Aroma Pandan

Menikmati Lek Tau Suan, Bubur Bercampur Cakwe Garing dengan Aroma Pandan

Menikmati-Lek-Tau-Suan,-Bubur-Bercampur-Cakwe-Garing-dengan-Aroma-Pandan

SALAH satu kuliner yang paling diminati di pulau Borneo adalah menu Lek Tau Suan, atau disebut juga bubur kacang hijau bercampur cakwe garing. Saat disajikan, aroma harum daun pandannya begitu terasa mengiringi kilauan kacang hijau yang kulitnya sudah dikupas dalam porsi menu tersebut.
 
Sejatinya, Lek Tau Suan adalah makanan khas Tionghoa, namun kuliner itu kini telah menjelma menjadi bagian dari menu khas yang sering dikonsumsi masyarakat Pontianak.
 
“Jadi ini sebenarnya makanan warisan budaya Tionghoa, namun ada perpaduan dimana ada cakwe garing khas Pontianak di dalamnya,” tutur Ahaw, pemilik booth makanan Lek Tau Suan, kepada Okezone di Festival Kuliner Serpong (FKS), Summarecon Mal Serpong, Sabtu 15 September 2018.
 
Jika diterjemahkan, Lek Tau artinya kacang hijau, dan Suan adalah mutiara. Sehingga jika kedua kata dipadukan, memiliki makna kacang hijau yang berkemilau. Istilah itu diasumsikan, dari kilauan kacang hijau yang telah dikupas kulitnya, lalu disajikan dalam menu kuah kental tersebut.
 
Saat mencicipinya, kuah kental manisnya begitu terasa. Sedangkan campuran cakwe garing yang ditopping (diletakkan dilapisan atas), menjadi pelengkap menu tersebut. Kerenyahan cakwe garing memberi rasa tersendiri saat dikunyah, berbeda dengan cakwe lainnya yang kenyal dan lembek.
 
Lek Tau Suan terbuat dari kacang hijau yang kulitnya sudah dikupas, lalu dimasak dengan kuah kental bening yang terbuat dari tepung tapioka. Selanjutnya, dicampurkan dengan gula dan daun pandan agar aromanya makin memikat pecinta kuliner.
 
“Kalau sudah mencicipi, nanti baru terasa perpaduan manis dari kuahnya, dan rasa renyah dari cakwe yang digunting,” tambah Ahaw.
 
Cara membuatnya cukup sederhana dan mudah. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan bahan-bahan, seperti kacang hijau yang sudah dikupas dan direndam air sekira 30-40 menit. Kemudian bahan lainnya adalah air, daun pandan, gula pasir, gula merah, garam, tepung tapioka yang sudah dilarutkan, serta potongan cakwe garing.
 
Selanjutnya, tiriskan kacang hijau dari rendaman air. Lalu kukus kacang hijau dengan air hingga mendidih selama kurang lebih 20 menit. Sambil menunggu kukusan kacang hijau matang, rebus air di wadah lainnya sampai mendidih, kemudian campur dengan daun pandan, gula merah, gula pasir, dan garam.
 
“Jika rebusan air dan daun pandan sudah mendidih, kemudian diaduk rata. Baru campurkan kacang hijau yang sudah dikukus tadi. Rebus semuanya dalam waktu sekira 5 menit. Kemudian masukkan larutan tepung, diaduk terus hingga airnya mengental. Prosesnya selesai, tinggal masukkan ke wadah mangkuk, dan ditopping potongan cakwe diatasnya,” jelasnya.
 
Untuk soal harga, satu porsi Lek Tau Suan dijual seharga Rp18 ribu. Selama penyelenggaraan FKS yang dimulai sejak 16 Agustus 2018 lalu itu, setidaknya telah terjual sekira 500-an porsi. Rata-rata pembeli yang datang merupakan warga Pontianak dan keturunan etnis Tionghoa, namun tak sedikit pula masyarakat umum yang ingin menjajal rasanya.
 
“Saya baru beberapa kali nyicipin bubur ini, dulu pernah juga waktu di Jakarta. Karena memang tinggalnya dekat sini, sekalian beli lagi. Rasa dan bentuknya beda, jadi buat penasaran,” ujar Adam Kurniawan (34), pengunjung FKS ditemui di lokasi.
 
FKS tahun ini mengusung tema ‘Pesona Bumi Borneo’, dimana di dalamnya disajikan kuliner khas dari pulau Kalimantan, diantaranya adalah Bubur Ikan Aweng, Sate Kuah Pontianak, Bubur Pedas Sambas, Rujak Idola Singkawang, Soto Banjar dan Sate Tulang Borneo.
Comments are disabled
Rate this article