Pusat Berita yang Hoki Punya
Beritahoki.com
/ BERITA HOKI / Mau Lolos dari “Jebakan” Promo dan Diskon Simak 3 Tips Ini

Mau Lolos dari “Jebakan” Promo dan Diskon Simak 3 Tips Ini

Mau Lolos dari "Jebakan" Promo dan Diskon Simak 3 Tips Ini

Mulai dari gerai peritel fesyen hingga supermarket kerap menggunakan teknik cerdas untuk membuat kita tak segan mengeluarkan banyak uang dan berbelanja.

Bahkan, akibatnya kita seringkali membeli sesuatu yang sebenarnya tak kita butuhkan. Apalagi jika ada promo atau diskon, kita rentan tergiur untuk berbelanja meski apa yang kita beli sebenarnya tak berguna.

Tentu ini hanya buang-buang uang saja, bukan?

Sebenarnya ada cara untuk mengendalikan pikiran kita agar tak mudah tergoda dengan trik pemasaran yang seringkali membuat kita menjadi orang yang boros.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan agar cerdik dalam berbelanja?

Cara terbaik adalah menyadari bagaimana kita benar-benar membuat keputusan dan mengenali sebanyak mungkin trik yang digunakan sang pemilik toko tersebut.

Demikian pandangan yang diberikan Richard Shottonn, penulis buku The Choice Factory.

Disebutkan, ada tiga hal utama yang biasa digunakan penjual untuk mempengaruhi pelanggan dan mendorong para pelanggan untuk berbelanja sebanyak mungkin.

Tiga cara tersebut harus benar-benar kita waspadai agar kita pun menjadi cerdik dalam berbelanja.

Berikut ini tiga cara yang biasa digunakan para pengecer yang bisa ‘menjebak’ kita saat berbelanja.

1. Perbandingan harga

Supermarket rata-rata memiliki begitu banyak barang sehingga tidak ada cukup waktu bagi pembeli untuk mempertimbangkan barang dan harga dengan cara yang logis.

Menurut Richard Shotton celah inilah yang diandalkan oleh peritel.

“Psikolog tahu kebanyakan orang tidak memiliki penilaian tetap tentang apa yang setara dengan nilai bagus,” kata Richard Shotton.

Menurut dia, para pembeli tidak akan berjalan-jalan dengan pikiran bahwa mereka akan menghabiskan seluruh uang mereka.

Sebaliknya, mereka akan membandingkan harga tiap item.

Di sini, dia menggunakan contoh bagaimana konsumen menentukan merek kopi mana yang akan dibeli.

Misalnya kopi merek “A” yang dijual dengan harga Rp 10.000 per bungkus dengan kemasan yang menarik.

Richard Shorton menyarankan agar kita membandingkannya dengan harga di toko terdekat lainnya.

Bisa jadi, ada kopi dengan jenis serupa yang dijual dengan harga lebih murah meski tak dikemas dengan cara yang menarik.

Menurut dia, hanya dengan memahami perbedaan tersebut maka perbedaan mendasar akan dirasakan.

Sebab, dengan cara tersebut para penjual biasanya melakukan trik sederhana untuk mempengaruhi pembeli.

2. Pengaruh musik

Percaya atau tidak, musik dapat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku belanja kita.

Untuk menjelaskan hal ini, Richard Shotton mengacu pada sebuah riset yang dipimpin oleh Adrian North.

Dalam penelitian itu, periset meminta pemilik sebuah supermarket memutar musik Perancis dan Jerman secara bergantian pada salah satu bagian supermarket yang menjual anggur.

Hasilnya, saat musik dari Perancis dimainkan, anggur Perancis lebih populer. Namun ketika mereka beralih ke musik dari Jerman, justru anggur Jerman terjual lebih banyak.

“Isyarat halus memiliki pengaruh yang mengejutkan,” ucap Richard Shorton.

3. Persepsi harga

Richard Shotton mengatakan, pembeli mengandalkan serangkaian jalan pintas untuk membuat keputusan.

Ini adalah jalan pintas yang rentan terhadap prasangka yang kemudian dapat digunakan oleh peritel untuk mendorong pembeli berbelanja lebih banyak.

Misalnya, saat kalian makan di restoran, desain menu akan mempengaruhi banyaknya makanan yang kita pesan.

“Menu sering menempatkan barang mahal di bagian atas, bukan dengan tujuan menjual barang itu, tapi untuk membuat hal lain tampak lebih baik nilainya,” ucap Richard Shotton.

Richard Shotton juga menjelaskan, terkadang ada tanda mata uang yang tak ditulis dalam buku menu untuk membuat pengunjung kurang sensitif terhadap harga.

Dengan memperhatikan semua trik yang biasa dilakukan oleh penjual, kita pasti bisa berkonsentrasi pada apa yang sebenarnya ingin kita beli ketika berbelanja.

“Jika kita membiasakan diri dengan hal ini, kalian akan diperingatkan terlebih dahulu dan, seperti yang mereka katakan, harus diperingatkan terlebih dahulu,” ucap Richard Shorton.

Comments are disabled
Rate this article