Pusat Berita yang Hoki Punya
Beritahoki.com
/ BERITA HOKI / Makanan Cepat Saji Bisa Merusak Syaraf Usus

Makanan Cepat Saji Bisa Merusak Syaraf Usus

Makanan Cepat Saji Bisa Merusak Syaraf Usus

Berita Kesehatan - Makanan Cepat Saji Bisa Merusak Syaraf Usus

Zaman sekarang ini, siapa yang ‘gak suka junkfood seperti pizza, eskrim, burger yang tinggi lemak, tinggi karbohidrat serta tinggi kalori, dan kemungkinan besar miskin nutrisi.

Tapi, kita tak sepenuhnya salah kalau suka makan secara berlebihan, karena faktanya, kita tetap saja belum merasa kenyang walaupun sudah makan banyak.

Jadi, ternyata kita terus makan dengan tidak terkontrol bukan hanya karena makanan tersebut enak. Para ilmuwan sudah meneliti dan menemukan bahwa makan terlalu banyak makanan berlemak dapat merusak saraf di perut,

syaraf  yang berfungsi memberitahu otak bahwa kita kenyang, para ilmuwan meyakini hal ini.

Diet yang tidak sehat dapat mengubah keseimbangan bakteri dalam usus –mendorong mereka yang berkembang pada lemak untuk berkembang biak dan membunuh bakteri jenis lain yang lebih memilih makanan sehat. Hal ini dapat

menyebabkan peradangan dan merusakkan ujung saraf yang berada dalam usus, sehingga otak tidak lagi merasakan sinyal yang memberitahu kita bahwa kita sudah cukup makan, ilmuwan AS berpikir demikian.

Mereka mengatakan penelitian mereka pada tikus menemukan diet tinggi lemak mengubah otak binatang. Krzystof Czaja di University of Georgia mengatakan: “Ketika kita mengalihkan tikus ke diet tinggi lemak, hal itu

mereorganisasi sirkuit otak. Menginduksi peradangan pada  daerah otak yang bertanggung jawab mengatur perilaku makan. Sirkuit direorganisasi dan peradangan dapat mengubah sinyal tentang rasa kenyang.”

Di masa lalu, tubuh kita telah terbiasa dengan makanan yang berasal dari sumber-sumber alami. Jadi para peneliti berspekulasi bahwa makanan buatan dan yang diproses mungkin mengganggu keseimbangan bakteri dalam usus

dan berakhir dengan membingungkan otak kita.

Dr Czaja mengatakan: ‘Dalam keadaan fisiologis biasa, banyak jenis bakteri yang berbeda hidup dalam lingkungan yang seimbang dalam saluran usus kita. Mereka tidak kelebihan populasi.’

“Ada pergeseran sedikit, tetapi secara umum populasi ini cukup stabil. Ketika kita mulai memberi makan tikus dengan diet yang berbeda, ada efek langsung. Tiba-tiba, nutrisi yang berbeda berubah mikro dalam usus dan beberapa

bakteri mulai kelebihan populasi. Beberapa bakteri sensitif mulai mati dan beberapa populasi bahkan mungkin menghilang.

“Jadi memperkenalkan perubahan yang signifikan dalam lingkungan mikro usus memicu kejadian beruntun yang mengarah ke perubahan populasi ini.”

Perubahan keseimbangan dan peradangan yang disebabkannya dapat menimbulkan ‘miskomunikasi usus-otak’ –seperti berpikir kita masih lapar, ketika kita sudah makan banyak. Tidak diketahui apakah perubahan itu

permanen atau dapat dibalikkan, kata peneliti

Jadi kita lebih baik waspada, ya, sebelum terlanjur terjadi kerusakan pada syaraf usus kita. Kan gawat kalau makan terus tapi ‘gak kenyang-kenyang. Bisa-bisa badan melar tak terkendali.

Comments are disabled
Rate this article