Pusat Berita yang Hoki Punya
Beritahoki.com
/ BERITA DUNIA / Lebaran dan Kopi Pahit untuk Gaza

Lebaran dan Kopi Pahit untuk Gaza

z

Warga Palestina merayakan Idul Fitri di tengah kesedihan. Tak ada kegembiraan. “Saya merasa bersalah jika saya tertawa. Saudara-saudara saya tengah menderita,” ujar Dawod.

 

Dream – Minggu malam, 28 Juli. Haya Dawod dan keluarga duduk melingkar, meriung di tepi meja bundar lebar di ruang tamu. Mereka merayakan malam lebaran di kediaman keluarga yang terletak di Beit Anan, sebuah desa kecil di Tepi Barat, Palestina.

Kala itu, umat muslim di penjuru dunia memang tengah merayakan Idul Fitri. Hari kemenangan setelah berpuasa selama bulan Ramadan. Warga muslim Tepi Barat biasa merayakan lebaran selama tiga hari.

Namun suasana lebaran tahun ini berbeda. Sebab, sudah sebulan ini Israel menggempur Palestina, tepatnya di Jalur Gaza. Seribu lebih manusia, termasuk perempuan dan anak-anak, terampas nyawanya.

Ya, suasana Idul Fitri tahun ini kurang menyenangkan. Setidaknya, itulah yang terlihat dari acara prasmanan yang digelar keluarga Dawod. Meskpun di atas meja keluarga itu terhidang domba panggang, manisan, kacang-kacangan, dan buah-buahan.

“Kami biasanya memiliki lebih banyak makanan,” kata Dawod dikutip beritahoki.com, Sabtu 2 Agustus 2014. “Dan juga musik dan permainan, tapi karena apa yang terjadi di Gaza yang kami punya jadi lebih sedikit.”

Sejak awal Juli yang lalu, tayangan televisi setempat selalu dipenuhi dengan berita kematian. Termasuk pengeboman Rumah Sakit Al-Shifa yang menewaskan delapan anak-anak Gaza.

“Id kali ini bukan Id, karena situasi di Gaza. Kami tidak bahagia. Kami tidak ingin merayakan apapun. Warga kami sekarat,” keluh seorang penjaga toko di Lapangan Muslim, Kota Tua Jerusalem, Maher Abu Mayaleh.

Invasi Gaza benar-benar tak menguntungkan, terutama bagi Mayaleh. Seharusnya, saat lebaran menjadi waktu memetik keuntungan berlimpah dari dagangannya. Biasanya, saat seperti itu warga berbondong ke toko untuk membeli pakaian baru, makanan, dan sebagainya. Keluarga akan berkunjung ke kerabat lainnya, berlibur bersama.

Namun tidak kali ini. Mereka harus minum kopi hitam tanpa gula, sebagai tanda berkabung bagi warga Palestina. Baju baru terpaksa mereka lupakan, karena memilih mengumpulkan uang untuk disumbangkan kepada saudara-saudara di Gaza. Tak ada liburan ke tempat wisata, sepanjang hari mereka memaku mata ke layar kaca. Mengikuti perkembangan nasib saudara-saudara mereka di Gaza yang sedang dihajar rudal Israel.

Idul Fitri memang sangat identik dengan berkumpulnya keluarga. Sehingga, dalam kondisi seperi itu, mood warga Palestina untuk merayakan kebersamaan sirna sudah. Tak hanya melanda orang dewasa, kemuraman juga menjalar kepada para pemuda dan anak-anak di negeri yang selalu dilanda konflik itu.

Abed Alkareem, bocah Palestina berusia tujuh tahun, mengatakan biasanya dia merayakan lebaran bersama keluarga dari Ramallah. Dia selalu bermain bersama sepupu, dan menerima banyak hadiah.

Namun kali ini Alkareem tak mau menerima hadiah atau mainan baru. “[Saya] Berikan semua ke Gaza,” kata bocah yang tinggal di Ramallah, kota di Tepi Barat, Palestina.

Hampir seluruh warga Palestina bergerak, melakukan apapun sebisa mereka uuntuk menolong saudara-saudara mereka di Gaza. “Saya mendonorkan darah kemarin untuk membantu warga Gaza. Itu yang saya bisa lakukan untuk menghormati Idul Fitri. Itu menunjukkan saya merayakan Idul Fitri tahun ini,” tutur Ahmed Imam, pemuda 16 tahun yang tinggal di Sheikh Jarrah, Jerusalem Timur.

Apa yang dirasakan oleh warga Palestina itu juga dirasakan oleh keluarga Dawod. Meski bisa berkumpul bersama keluarga, mereka tak merayakan lebaran dengan suasana gembira. “Di mana saya merasa bersalah jika saya tertawa. Saudara-saudara saya tengah menderita,” ujar Dawod.

Comments are disabled
Rate this article