Pusat Berita yang Hoki Punya
Beritahoki.com
/ BERITA HOKI / Harga Rumah Naik di Bulan April-Juni

Harga Rumah Naik di Bulan April-Juni

Bank Indonesia ( BI) dalam Survei Harga Properti Residensial (SHPR) kuartal II 2017 menyebutkan terjadinya perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer.

Ini tercermin dari indeks Harga Properti Residensial kuartal II 2017 yang tumbuh 1,18 persen secara kuartalan (qtq), turun dari 1,23 persen (qtq) pada kuartal sebelumnya.

“Kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah, terutama tipe kecil,” kata bank sentral dalam pernyataan resmi, Sabtu (12/8/2017).

Kenaikan harga tertinggi terjadi di Jabodebek dan Banten. Peningkatan harga rumah terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan biaya perizinan.

Adapun volume penjualan properti residensial tetap tumbuh 3,61 persen (qtq) meskipun melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 4,16 persen (qtq).

Property_Investment

Perlambatan penjualan properti dipengaruhi masih terbatasnya permintaan terhadap rumah hunian.

Hal ini sebagaimana terindikasi dari pertumbuhan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) pada kuartal II 2017 yang melambat.

Faktor utama penyebab rendahnya pertumbuhan kegiatan properti ini menurut sebagian besar responden adalah suku bunga KPR yang masih tinggi.

Sebagian besar pengembang, yakni 55,30 persen menyatakan bahwa dana internal perusahaan masih menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial.

Sementara dari sisi konsumen, fasilitas KPR, yakni 75,54 persen masih menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial.

Berikut ini beberapa faktor yang membuat harga rumah terus naik:

Pertama, faktor luas tanah yang tak bertambah. Kebutuhan terhadap tempat tinggal terus bertambah dari tahun ke tahun. Namun, supply tanah di muka bumi tidak bertambah, bahkan berkurang.

Oleh karena itu, sesuai dengan hukum supply and demand, situasi tersebut membuat kenaikan kebutuhan dan harga-harga properti dari tahun ke tahun.

Kedua, jumlah penduduk terus bertumbuh. Jumlah populasi manusia di bumi yang terus membengkak dan tidak dibarengi dengan perluasan tanah membuat harga properti terus naik dari tahun ke tahun. Begitu juga populasi di kota-kota besar di Indonesia.

(Analisis dan catatan kenaikan harga properti bisa disimak di rumah.com/review)

Ketiga, adalah faktor inflasi. Setiap tahun terjadi inflasi. Meski prosentasenya berbeda-beda tetapi mempengaruhi sektor-sektor lain seperti, tingkat suku bunga, percepatan kredit pinjaman, harga bahan bakar, harga-harga kebutuhan pokok, tak terkecuali harga properti.

Keempat, kenaikan harga bahan dasar properti. Seperti harga-harga kebutuhan lain, inflasi juga turut menaikkan harga bahan-bahan dasar bangunan setiap tahun.

Mulai dari harga pasir, semen, batu bata, kayu, cat, dan lain-lain. Akumulasi kenaikan harga-harga bahan dasar bangunan itu ikut menaikkan harga properti setiap tahun.

Baca juga: Terungkap! Alasan Pengembang Bilang ‘Senin Harga Naik’

Kelima, faktor pertumbuhan kelas menengah. Setiap negara sedang giat membangun. Hasil dari pembangunan itu adalah meningkatnya jumlah kelas menengah. Mereka dicirikan selain rata-rata mempunyai pendidikan yang baik, juga mempunyai penghasilan yang stabil.

Jika mereka membentuk ikatan rumah tangga, terbentuk dua orang suami-istri yang masing-masing memiliki pendapatan stabil. Mereka inilah pasar paling potensial investasi properti. Seperti memanfaatkan turunnya suku bunga dan tumbuhnya properti-properti baru yang kian menarik.

Semakin meningkat jumlah kelas menengah, baik di perkotaan maupun di pedesaan, akan meningkatkan kebutuhan properti.

Keenam, adanya peningkatan industri dan lapangan kerja. Properti secara umum dibagi menjadi 2, yakni properti residensial (hunian) dan properti komersial (sarana bisnis).

Jika industri di suatu wilayah berkembang, sudah tentu akan meningkatkan kebutuhan properti komersial yang selanjutnya juga akan menaikkan jumlah tenaga kerja. Harga-harga properti kemudian akan melonjak sesuai permintaan, termasuk properti residensial.

Seperti perumahan Grand Taruma, Karawang, yang berdiri ditengah-tengah lingkungan kawasan industri. Kota Karawang yang dulunya sepi, setelah hadirnya kawasan industri, selanjutnya mendorong tumbuhnya unit-unit properti lain terutama dari sisi residensial.

Comments are disabled
Rate this article