Pusat Berita yang Hoki Punya
Beritahoki.com
/ HOKI 17 PLUS XXX / Cerita Seks Lesbian 2 Perawan

Cerita Seks Lesbian 2 Perawan

z

Cerita ini berawal ketika Siska, wanita cakep temenku di datengi adik kostnya.

– mbak, mau kubantu ? – suara Halwa terdengar saat masuk ke kamar kostku.

– Walah ya jangan repot2, ini kan cuma ngebongkar titipan orang – sahutku

Sambil mengeluarkan macam2 kripik dari dalam kardus2 besar yang baru datang.

– kubantuin makan, maksudku – sambung Halwa cekikikan.

Sambil tersenyum aku mengeluarkan juga pakaian yang terlipat rapi dari kardus2 itu juga. Halwa tidak bisa diam melihatku mengeluarkan isi paket dari kerdus. Kubiarkan sesaat Halwa ikut mengatur memisahkan makanan kering, keripik, pakaian dan buku2. Aku teringat sesuatu, tapi terlambat…

– Eih ?!? – Halwa memperhatikan 3 dvd di tangannya.

Movie porno koleksiku ketahuan!!

Halwa berdiri menghindar saat kucoba merebut dari tangannya. Halwa malah naik ke tempat tidurku, bersandar dan membolak balik gambar di covernya. Biarlah, kupikir Halwa juga sudah dewasa. Baru 2 semester berjalan sekolah menengahnya, Halwa sudah termasuk dewasa menurutku. Jika ternyata belum melihat hal2 seperti itu .. ya berarti masih lugu dan poloslah dia.

– mbak Siska punya film begini ? pinjem ya mbak – katanya bangkit dari tempat tidurku langsung berjalan cepat ke pintu.

– hati2 menyimpannya. – seruku sambil melanjutkan unpacking isi kardusku.

Lama juga memilah isi kardus dan menatanya ke lemari, meja dan kulkas kecilku. Setelah semuanya rapi, kuambil kaos longgar dan celana pendek, handuk serta perlengkapan mandiku.

Setelah mandi aku keluar kamar mandi, berjalan terus keluar kamarku sambil mengeringkan rambutku dengan handuk. Beberapa langkah setelah di depan kamar Halwa, kuketuk pintunya.

Dengan lilitan handuk membungkus pinggang hingga pahanya, Halwa membukakan pintu dan langsung menarik tanganku masuk ke dalam kamarnya. Dikuncinya pintu dan kembali memegang tanganku, menarikku ke depan tvnya. Seperti perkiraanku, Halwa masih melihat dvdku tadi.

Masih tertayang seorang pria kulit gelap telanjang dan dua gadis asia setengah telanjang sedang beraksi di ruang kantor. Pria itu berlutut di depan gadis si rambut panjang yang duduk di kursi dengan paha terbuka lebar, kaki yang satu di atas meja.

Dengan cepat pria itu menggoyang pantatnya maju mundur sementara si rambut panjang mencengkeram tangannya ke atas, memegang sandaran kursi di belakang kepalanya sambil berteriak seperti kesakitan. Branya telah terbuka menggantung di tangan kirinya. Buah di dadanya bergoyang seirama dengan kayuhan pantat si pria.

Yang rambut pendek berusia belasan tahun terbaring di meja, dengan rok seragam sekolahnya telah tersingkap ke atas. Pahanya terbuka lebar, kakinya diatas meja, sementara kepala pria itu mencium dan menjilat pangkal paha gadis itu. Tangannya pun ikut bermain di sana.

Halwa diam saja saat kuberjalan ke kulkasnya, membuka dan mengambil setangkai anggur. Kututup kulkas dan memutar tubuhku menghadap tempat tidur, memperhatikan Halwa. Ia tak berkedip melihat tv, duduk di tepi tempat tidur, kaki kirinya di atas kaki kanannya, terlihat sedikit bergoyang. Terlihat pantatnya juga sedikit bergoyang memutar.

Halwa hanyut dengan tontonannya. Sambil tersenyum aku duduk di selahnya sekarang. Kuperhatikan dadanya naik turun agak cepat. Kubiarkan Halwa menonton movie itu sampai si pria berdiri dan menghadap meja, ke arah gadis sekolah rambut pendek itu. Pria itu mulai menggoyang pantanya lagi maju mundur di tengah pangkal paha yang terbuka lebar di atas meja.

Sekarang kuganti cemilanku dengan minuman ringan dari kulkasnya. Belum habis minumanku, pria itu telah berteriak, memegang batang kemaluannya yang mengeluarkan cairan putih memenuhi wajah gadis itu.

Kuperhatikan Halwa, duduk tegak, tangannya menopang tubuhnya di tempat tidur. Kakinya sedikit terbuka pahanya.

Sekarang!! Dengan cepat kuraih handuk yang melilit bawah tubuhnya, kutarik lepas menyingkap bawah tubuhnya yang sekarang terlihat jelas. Halwa tidak mengenakan apa2. Ia terkejut.

– Eih!! mbak Siska!!

Tangannya bergerak menutup pangkal pahanya. Saat akan berdiri, kutahan tangannya, sambil terseyum aku berkata

– jangan ributlah, toh punya kita sama. – suaraku menenangkannya.

Halwa mulai tersenym dan kembali duduk tenang.

– tapi punyaku bulunya jarang mbak, masih halus. – tangannya membelah menyisir rambut bawahnya perlahan.
– kalau punyaku sudah banyak keluar, tapi sering kucukur. enak kalau mulai tumbuh lagi, geli2 gimana gitu.

Aku berdiri sekarang menghadap Halwa. Dengan santai kuturunkan sedikit calana pendekku, terlihat jelas Halwa memperhatikan milikku. Lalu ia membandingkannya sebentar dengan miliknya.

– ah mbak Siska sudah dewasa, dada mbak sudah bagus bentuknya.
– kalau dadaku cuma segini – Halwa kemudian mengangkat baju atasnya, terlihat bra cup nya yang agak kedodoran.

Kutarik ke atas kaosku, kulepaskan sekarang lewat kepala. Setelah meletakkan kaosku di atas tempat tidur, kupegang bagian bawah kedua buah dadaku, sedikit kuremas dan sedikit kuangkat ke atas, sedang kucoba kutontonkan pada Halwa.

– punya mbak Siska bagus. mungkin paling bagus diantara anak2 kist sini. – katanya pelan.

– besar, maksudmu ? – jawabku tertawa geli

lalu kuputar bagian belakangku menghadap cermin, menurunkan lebih ke bawah celana pendekku.

– semoga pantatku juga indah ya – komentarku

– padat mbak, apa yang itu disebut bahenol ? – tanya Halwa

– hihihi – tak tahan ku tertawa geli dengan komntarnya. senang juga mendengarnya.

Aku menungging sekarang, memperlihatkan dengan jelas kedua lubangnya di cermin.

Halwa duduk bergeser, ikut memperhatikan apa yang tampak di cermin.

Kutarik celanaku ke atas sekarang, lalu kududuk lagi disebelahnya.

– punyamu sudah basah ? – tanyaku

– apanya mbak ?

– ya yang di bawah pusarmu, terasa basah gak ?

– enggak tau – jawab Halwa.

Ia kini bergerak mundur sedikit di tempat tidur. Lututnya diangkat ke atas, kedua kakinya di atas dipan sekarang, pahanya dibuka lebar-lebar, mempertontonkan pangkal pahanya. Kedua tangannya membantu membukanya hingga kini terkuak. Kulit dalamnya yang merah muda sekarang terlihat jelas, agak berlendir.

– sudah pingin pipis ? – tanyaku lagi.

– tadi pingin sih, tapi bukan pingin pipis rasanya. enggak tau gimana gitu – jelas Halwa.

– tapi sudah basah kan ?

Kuambil handuk dan mengusap pangkal pahanya. Halwa diam saja. Kupijit perlahan sekarang.

– sudah mencoba memasukan ke lubangnya ? – tanyaku lagi perlahan

– apaan ? apa maksud mbak Siska ?- tanyanya

– mungkin jarimu kau masukan ?

– tadi memang pingin memegangnya, terasa enak terus keterusan memegangnya. – jelasnya
– makanya kulepaskan celanaku biar enak mengusapnya – jelasnya lagi.

Terlihat pantat Halwa mulai sedikit bergoyang goyang. Aku tidak menghentikan usapan dan pijitanku.

– enak diusap ? – tanyaku lagi.

– tadinya sih – jelas Halwa.

– kalau sekarang ?

Halwa diam, mencoba menikmati usapanku di bawah perutnya.
Kugeser dudukku sekarang, mendekat. kubelai rambutnya, kusisir perlahan. sesekali kuusap juga telinganya. Halwa diam, menatapku.

Sekarang tanganku tanpa handuk membelai pangkal paha Halwa, bagian sensitif wanitanya, perlahan naik turun, sesekali membuka lipatannya menyentuh tonjolan kecil di dalamnya.

Halwa memjamkan mata. nafasnya mulai terdengar jelas berirama agak cepat.
Kakinya kubuka lebar2, dengan tangan kiriku kupercepat usapan di pangkal paha Halwa.

– hsss … mbaaak – Halwa mendesis, merebahkan tubuhnya di tempat tidur sekarang.

Kugerakkan tangan kananku ke arah dadanya sekarang. Perlahan kuangkat cup penutup buah di dadanya. kuusap-usap ujung kecil di buah dadanya.

– hmmm … hssss – Halwa bersuara tak jelas

Tangannya memegang tanganku yang di dadanya. Hanya memegang. Aku sekarang meremas buah di dada Halwa yang masih ranum itu. Tangan kiriku kupercepat mengusap pangkal pahanya.
Halwa mulai melepaskan nafasnya pendek berirama cepat sambil bersuara

– haah!! haah!! haah!!

Kupercepat tangan kiriku mengusap daging kecil di celah2 pengkal paha Halwa.
Perlahan jari tengahku mengusap sekeliling lubang kecil di bawahnya. Sesekali mencoba masuk

– mbaak!! Haah!! Haah!! mbak Siskayy!! haah!!

Dengan ibu jari tangan kiriku aku kini mengusap daging kecilnya, sementara jari tengahku mencoba masuk ke lubang bawahnya. semakin cepat gerakanku, Halwa kini bergoyang pantatnya. Terus bergoyang mengikuti iramaku.

Telah masuk setengah jari tengahku di dalam pangkal paha Halwa. Mulai basah jariku itu, tapi tetap tertahan tak bisa masuk lebih jauh.

Dengan jangkauan sedikit masuk ke dalam itulah aku menggerakkannya keluar masuk
Semakin cepat, cepat, lebih cepat, kutambah kecepatannya …

– mbaaaak Siskayyyy !! – Halwa menyebut namaku dengan menjerit kecil

Tubuhnya bergetar. Bukan bergoyang seperti tadi, tapi bergetar, mengejang, otot pangkal pahanya menegang, tangan keduanya menangkap tanganku yang bergerak cepat di bagian bawah tubuhnya.

Kemudian diam tak bergerak, kecuali nafasnya naik turun seperti berlari kecil.
Tanganku sudah diam sekarang.

– basah ya ? aku ngompol ya ? tadi seperti pipis rasanya …

Kuambil handukku tadi, kuusap lagi ke bagian penting Halwa itu.

– enak Halwa?!?

– hmmm … gimana ya rasanya … – jawabnya masih telentang.

– punyaku juga sedikit basah lho

Halwa bangkit, duduk sekarang. menatapku lalu memperhatikan bawah pusarku.

– terus aku musti gimana ? – tanyanya

– coba kau ganti dan putar film dvdku. yang India ya ?

Aku beranjak dari tempat tidur ke meja rias Halwa. Halwa dengan cepat mengganti dvd dengan film yang kumaksud. Kuraih sisir sikat Halwa yang dari karet lunak, kududuk lagi di dipan.

kuraih remote dvd, dan kupilih scene yang paling tengah.

Langsung tampil seorang pemuda keturunan India yang telah telanjang bulat, mengikat wanita berdarah India juga yang kini telanjang bagian bawah tubuhnya. Wanita berambut pendek seperti lelaki itu menangis di tepi tempat tidur, kedua tangannya terikat di satu sudut atas tempat tidur.

Kugesekkan pangkal sisir sikat Halwa pada pangkal pahaku berulang ulang.

Halwa yang memperhatikan kegiatanku juga mulai duduk sambil sesekali melihat film itu.

Aku ikut merasakan nikmatku saat pemuda itu memasukan tongkat kehidupan di bawah pusarnya dengan paksa ke gadis yang terikat itu. Bersaamaan itu juga masuklah pangkal pegangan sisir sikat Halwa ke dalam lubang bawahku. Terasa sesak lubangku dipenuhi pangkal sisir itu yang semakin masuk, semakin lebar pangkal sisir itu.

– AArhhhhh!! – aku merasakan nikmat saat kutarik dan kumasukan lagi berulang-ulang

Halwa di sebelahku mulai mengusap bawah perutnya juga, mengikuti iramaku. Halwa duduk terbuka lebar lagi sambil memperhatikanku dan tv bergantian.

Nikmat yang kurasakan menambah sensasi kami berdua saat wanita di tv mulai berteriak2 menangis menjerit-jerit. Sisir itu telah cepat keluar masuk membantuku mencapai nikmat yang kucari.
Halwa mulai mengerakkan jemarinya ikut2 memasuki lubangnya sendiri.

Tambah cepat nafasku saat melihat Halwa mulai bergoyang menikmati usahanya.

Wanita di tv terlihat megejang, sementara pemuda itu menghentikan kegiatannya tuk berganti posisi, menduduki paha wanita itu dan mencoba memasuki lubangnya dengan pusaka miliknya.

– haaah!! mbaaak!! – Halwa merintih, saat tanganku ikut meremas dadanya.

Aku bergerak cepat, menggeser dudukku mendekati Halwa.

– haah!! bantuin Halwa!! haah – seruku

Kudekati tangan Halwa yang menyangga tubuhnya, kuraih dan kuarahkan ke sisirnya sendiri yang keluar masuk di lubang kenikmatanku.
Halwa yang sekarang ikut memegang sisir itu, melai mengikuti irama tanganku.

– haah!! haah!! yang cepat!!

Sekarang kubiarkan Halwa sendiri yang melakukannya. Kubuka pangkal pahaku lebar2 menghadapnya, kuangkat sedikit lubangku, kini Halwa mulai mempercepat tusukannya.

– HAAAAHHH!! – suaraku keluar saat tanganku bergerak,

mengusap dan menekan daging kecil di dalam lipatan bawah tubuhku. Halwa tetap menusukku dengan irama yang kurasa bertambah lama bertambah cepat. Nikmat dan sensasi yang luar biasa, terbawa suara di tv yang nyaring. Benar2 terasa penuh lubangku saat Halwa membenamkannya, dan terasa nikmat sensasinya saat Halwa menarik dan membenamkannya lagi dengan cepat.

Tak kuasa aku menahan getaran dan kejangnya otot di seluruh tubuhku saat puncak nikmat yang kucoba raih itu datang …

– AAAAAAAAAAAARRRRGGGHHHH !!!!

Betul2 serasa mengeluarkan kepuasan yang tiada tara melalui bawah tubuhku …
Kubiarkan Halwa menusuk lubangku beberapa kali, lalu kutahan dengan kedua tangannku mencoba menghentikannya.

Tangan Halwa yang satu masih menusukkan jemarinya ke lubang miliknya dengan cepat sekali. Ia terlihat ingin juga menikmati puncak permainannya. Tak beberapa lama sebelum sempat kubantu …

– hah!! hah!! HAHH!! HHAAAA!! HAAARRGHHH!!! MBAAAAAAAAKKKK!!!

tubuhnya menegang, bergetar sesaat, perutnya naik turun cepat, kemudian merangkulku. Kami berbaring sekaarang, aku tertindih tubuhnya yang penuh keringat. Masih merangkulku dan menyandarkan kepalanya, terdiam tak bergerak.

Bebearpa saat kemudian Halwa sesenggukan menangis …

– huhuuu – berbisik ia dalam tangisnya

aku sudah tidak perawan lagi ya? Huuu huuu …

Kuangkat tanganya yang dipakainya sendiri, kuperhatikan ada lendir membasahinya dan sedikit merah …

– entahlah Halwa, aku tidak yakin itu darahmu, tetapi tenang sajalah, kau sudah memdapat apa yang kau cari tadi – bisiku perlahan …

Setelah beberapa lama kami berpelukan, aku mulai meninggalkannya di tempat tidur, merapikan celanaku dan mengenakan kaosku. Kuambil handukku, dan bergerak keluar kamarnya, masuk lagi ke kamarku tuk mandi lagi.

– Begitu deh mas ceritanya – berbisik Siska perlahan

– Lu gila ya Siska, cerita detail begitu ke gue ? – tanyaku perlahan sambil tersenyum.

– Lah, kan mas sendiri yang ingin dengar ceritanya.

– Iya, tapi aku sekarang kan bingung mau ke mana. Pelabuhanku sekarang sedang ke Manado, yang lain di Singapore dengan bossnya. Yang lain sedang terbang dengan flight maskapainya. Kemana kapal selamku musti berlabuh? Ah dasar kau sukanya bikin pusing – kutatap matanya.

Kusandarkan badanku ke kursi, kutarik kedua tanganku menopang kepalaku.

Siska menggeser kursinya, dari hadapanku tadi, sekarang kursi yang beroda itu telah berada di sebelahku. Sambil mendekatkan wajahnya ia tersenyum sambil berbicara perlahan :

– asyik kan ceritanya ?

– Untung gak ada yang dengar ceritamu tadi. – kataku sambil memperhatikan kiri kanan.

– Hari Sabtu begini, kantor ini biasanya sepi mas. Jarang ada yang lembur sampai sore begini.

– Kalau bukan karena menemani mas membackup data akuntasi perusahaan ini tiap hari Sabtu, aku juga gak bakal ke sini mas.

– Lah, bukannya tiap minggu kamu ke sini ngeberesin pembukuan ?

– hiyo hiyo. terserah deh mas. tapi sekarang pokoknya sepi. tenang aja. office boy kan sekarang doyan maen facebook mas.

– mas aja yang freelance di sini tidak memperhatikan. mas cuma hari2 tertentu sih datang ke kantor kami.

Kulirik Siska sekarang. Ia masih memajukan tubuhnya ke arahku. Terlihat bibir merah mudanya yang basah, kemeja atasnya yang ketat sekarang memperlihatkan belahan dadanya yang indah.

Matanya menatapku tak berkedip. Siska memperhatikan mataku melirik dadanya, turun ke paha seakan menelanjangi tubuhnya.

Kuturunkan tanganku sekarang, dengan jarak dekat begini kuraih rambut di atas telinganya.
Kusisir pelahan kebelakng. Siska bergerak mendekat, meletakakan tangannya dipahaku.

Segera kutarik kepala Siska, kucium bibirnya, kuhisap dalam2, lidahku juga mencoba melumat rongga mulutnya.

Kuhentikan ciumanku, terlihat mata Siska terpejam dan sedikit terbuka mulutnya.

– Di mana ruang meetingmu ? – kubertanya sambil mengajak Siska berdiri, menarik tangannya.

Siska berjalan cepat ke arah ujung ruangan yang luas ini. Kulewati lorong kerja disekitar meja kerja karyawan kantor ini. Di salah satu meja yang komputernya menyala terlihat pemuda yang sedang mengetik di keyboard, berinteraksi dengan monitornya yang menampilkan facebook. Office boy sedang sibuk sendirian sekarang.

Pintu paling ujung telah terbuka, dan Siska menahannya menungguku masuk.

Setelah melewatinya, terdengar pintu tertutup perlahan dan kudengar suara kunci diputar.

Sekarang ku berdiri menghadap meja besar di ruangan kecil ini. Terlihat Siska bergerak cepat menutup gorden jendela di dua sisi ruangan ini. Meskipun siang, terasa remang cahaya yang masuk sekarang.

Siska berjalan ke arahku, memutari meja sekarang. Tangannya bergerak melepaskan kancing baju atasnya. Sesampai di depanku Siska hanya mengenakan bra, memperlihatkan buah di dadanya yang besar dan indah tertopang bra gelapnya. Ia kini duduk di atas meja menghadapku.

tangannya kebelakang sesaat, kemudian terlihat rok bawahnya mulai longgar pinggangnya.
Sambil mendekat, kubuka resleting celanaku jeansku.

Kuraih kedua tangannya dan kutarik menyuruhnya turun meja. Rok bawahnya sekarang terlepas saat Siska berdiri menghadapku.

Kuraih kursi dan kuajak dia berlutu sementara aku duduk di kursi itu. Kuhadapkan kursi ke arahnya, kuperlebar ruang resletingku dengan menarik sampai ujung bawah, lalu kuturunkan celana dalamku. Kuraih pusakaku yang setengah berdenyut itu. Batang pusakaku kini telah menjulang keluar diantara delah resleting.

– hmmm – Suara Siska terdengar, saat meraihnya.

Geli dan nikmat langsung mengalir dalam aliran darahku saat Siska mulai memasukan dalam mulutnya. Kepalanya mulai maju mundur, dan tangannya mulai melepaskan kaitan ikat pinggangku. Dibukanya kancing atasnya dan kini dengan sedikit membungkuk Siska sekarang telah menaik turunkan kepalanya, menelan ujung pusakaku sampai terasa sangat geli sekarang.

Kusandarkan tubuhku, dan kuraih kepala Siska.

– oowwhh – tambah geli aku sekarang, saat mulutnya menjepit pusakaku sambil naik turun.

Kubiarkan ia memijit pangkalnya sekarang. Perlahan ia mulai mengurutnya ke atas dan menekannya ke bawah. Lalu bertambah cepat. Dan sekarang lebih cepat lagi.
Sungguh nikmat yang terkira di gedung ini kurasakan.

– iihh – aku terkejut

Rasa sensasi nikmatku bertambah saat Siska menhisapnya.
Terasa beberapa detik cepat berlalu, berlomba dengan gerakan Siska. Segera kulepas kekangan yang kutahan semenjak mendengar cerita Siska dari tadi.

Ujung nikmatku telah sampai. Kubenamkan kepala Siska ke pangkuanku, tak kulepas saat kusemburkan energi di bawah pusarku. Siska memejamkan mata saat menghisap semua energiku, menelannya dan menyapu sisanya dengan lidahnya.

Bukan main … ada kenangan baru aku di hari Sabtu ini.

– enak mas ? – Tanya Siska sambil mengusap mulutnya

– sebentar ya. – Siska berdiri, ke arah lemari kecil.

Dituangnya air di gelas dan meminumnya satu dua teguk. Kemudian disodorkan ke arahku.
Kusambut. Kuraih pergelangan tangannya yang memegang gelas. Aku berdiri dan memutar tubuhku sambil menarik Siska untuk duduk di kursiku tadi.

Siska meletakkan gelasnya di meja, dan langsung memegang kepalaku yang sudah menyeruduk masuk ke pangkal pahanya. Celana dalam hitamnya telah kutekan dengan wajahku menusukan hidungku ketengah tengahnya. Tercium wangi kainnya. Kugosok gosokkan mukaku ke situ. Berputar putar, naik turun, kiri kanan.

– huaaahh … massss

Perlahan tanganku ke pinggulnya, menarik ke bawah kain celaan dalamnya. kuturnkan sampai matakaki. Siska menggerakan sendiri kakinya hingga terlepas kain itu.

Saat kuangkat kepalaku menatapnya, terlihat buah di dada Siska mulai menarik keinginanku meremasnya. Kubuka bra hitamnya. Kuremas2 keduanya. Siska mendesah.

Kuputar kursinya, Siska sekarang kurangkul dari belakang di tempat duduknya. Kuremas sekali lagi dadanya. Kupijat dan kuremas hingga keujungnya. Siska mengangkat kepalanya ke atas.

– haaahhhhsssss maassss

Kutarik kuajak berdiri dia sekarang. Kuangkat satu kakinya dan kunaikkan ke kursi. Kuremas pahanya. Kuremas atasnya sedikit. Perlahan remasanku naik, hingga ke paha bagian dalam di pangkalnya. Siska menggigil

Perlahan remasan dan pijitanku sudah sampai ke pangkal pahanya. sudah sampai ke belahan bawah pusarnya. Kupermainkan daging kecil itu. Ia melenguh mengeluarkan udara lewat mulutnya.

Siska menarik tanganku. Ia beringsut sedikit ke meja, lalu duduk di meja menghadapku. Agak bergeser sedikit, ia sekarang mengangkat kedua kakinya di meja lebar itu. Siska melebarkan pahanya ke arahku. Terlihat rapi sisiran bulu bawahnya menutupi lipatan bagian vitalnya.

Siska merebhakan dirinya ke meja sambil bergerak menanti gerakanku selanjutnya.
Segera saja kutarik kursi duduk, menghadap meja, memeluk kedua pahanya dan membenamkan mukaku kebelahan tengah tubuh bawah Siska …

– shayyhhaaanggg !!! hooooohhhhh!!! – serunya berulang ulang beberpa lama

Siska bergetar, saat kumulai menjiat bagian2 penting di area lubang itu.

– huuooh!! hah!! ssshhhh hhaah !!!

Siska terus mengeluarkan suara saat kujilat dengan lidahku yang bergerak cepat di situ.
Kuturnkan tanganku dan mulai mengurut pusakaku yang mulai setengah tegang lagi itu.

– haah!! mass!! saa … yaaang!!

Siska berceloteh tak jelas …
Lidahku lebih cepat bergerak sekarang.

– yes mas !! huuuuh !!!

Kuhentikan jilatanku, aku berdiri sekarang.

– hhmmmm … mmmm … – Siska mengerang,

badannya bergoyang, menyodorkan lubang miliknya ke arahku. matanya terpejam, kedua tangannya meremas sendiri kedua buah dadanya.
Kutempelkan ujung pusakaku langsung di pintu masuk lubang Siska.

– hooh yes mas … sekarang sayang …

Kumasukkan kepala pusakaku ke lubang berlendir itu. kutarik lepas dan segera kumasukkan lagi kepalanya. berulang ulang dengan irama yang semakin cepat.

– hah!! hah!! haahhh!! – nafas Siska memburu gerakanku

beberapa saat kemudian, kumasukkan semua pusakaku, kubenamkan semua ke dalam lubang Siska.

– aaauuwwooooooooohh – mulut Siska makin bersuara memikat

Akhirnya kusaat kubenamkan dalam2 itulah aku segera melakukan getaran sedikit menarik dan dengan penuh memasukkannya. Kjulakukan sangat cepat iramanya, secepat gerakan drill bor yang sangat cepat itu.

– HAUW HAUW HAUW HAUW …. – suara Siska terdengar ikut bergetar cepar

Kutambah getaranku dan kupercepat
Segera saja Siska bergetar, menggelijang, menegang otot perut dan pahanya, mulutnya terbuka tak bersuara … kemudian tangannya mengangkat pahanya, ikut2 bergetar sesaat lagi …

Kuhentikan kegiatanku, kubiarkan Siska meresapi nikmatnya di atas meja meetingnya. Kulepaskan pusakaku, dan kuremas2 tuk menjaga tetap tegang.

Kemuian kutarik kakinya turn meja, kuraih tangannya mengajak berdiri. kuputar badannya dan kuarahkan menungging, tangannya memegang pinggir meja. Kuarahkan pusakaku dan mulai kudororong memasuki lubang Siska sekali lagi. Siska mendesah sekali lagi. sampai ia berjinjit berdirinya, menopang tubuhnya dengan jari kakinya.

Kuteruskan kegiatanku menghujam lubang milik Siska dengan pusakaku, dengan sebentar sebentar berganti posisi. Dari menungging di pinggir meja, berpindah ke kursi, kemudian menungging di karpet. Hingga akhirnya Siska teelentang di karpet dengan kaki berlipat di atas tubuhnya, menahan tubuhku di atasnya yang naik turun secara cepat menindih Siska. Di posisi demikian aku merasakan kenikmatan memenuhi lubnag Siska dengan pusakaku, mengoyaknya, memutar dan bergetar cepat menekan pangkal pahanya.

Hingga akhirnya kucapai lagi ujung kenikmatan yang memuaskanku sekali lagi.

Lelah aku telentang di karpet ruang meeting itu tuk beberapa saat. Sampai kuingatkan Siska tuk memperhatikan cahaya luar gedung yang telah mulai gelap, senja mulai tiba. Waktunya tuk meninggalkan gedung ini.

– makan malam di kostku aja ya mas …. – tangannya masih memeluk erat salah satu tanganku.

– lah emang kau masak apa ? seharian kita di kantormu begini – candaku di dalam lift.

– kita di Tebet mampir ke McD lalu kita makan di kakamarku.

– Ok, aku ke pos satpam dulu nitip motorku tuk parkir lama ya.

Sesampai di kamar Siska di kostnya, bukannya makan pesanan makanan yang kami bawa,
Siska sudah berinisiatif melucuti pakaianku, berusaha membangkitkan garirahku dan kita bergumul di ranjangnya. Setelah aku dan Siska terlentang menikmati puncak kepuasan yang tercapai, rasa lapar kami datang lagi. Sambil makan, Siska menawariku menginap.

– ini kunci cadangan kamarku. – Siska menyodorkan anak kunci.

– besok malam mas masuk sini aja duluan kalau aku belum nyampai.

Lah, ini pemaksaan secara halus, pikirku. Kuterima kuncinya, dan menyalakan tv menyaksikan film lepas yang tayang malem itu. Setelah film selesai, Siska menggantinya dengan salah satu dvd nya. Dari covernya aku sudah bisa menebak, film apa yang bakal kulihat sekarang.

Ditengah film panas Siska itu terlihat Siska melepaskan lagi dasternya kemudian menciumi perutku dan bawah pusarku. Melepaskan celanaku dan mengulum lagi pusakaku. Akhirnya dibantu film dan usaha Siska itulah aku bisa mulai menyambut ajakan Siska lagi.

Terasa Siska seperti ketagihan dengan apa yang diperolehnya malam Minggu ini. Ia selalu menginginkanku memuaskannya, meskipun aku kelelahan. Kubantu Siska mencapai ujung pencapaiannya hingga terasa sampai energiku habis kuekspose malam itu.

Ditengah lelapnya tidurku, jam alarm Siska membangunkam kami di siang hari, segera aku bergerak hendak mandi. Belum sampai aku berdiri dari tempat tidur, Siska sudah merangkulku dari belakang dan tangannya turun ke arah bawah pusarku.

Fenomena pagi kaum laki2 inilah yang ternyata di tunggu Siska. Pusakaku memang sedang tegang dan kencang sekali saat bangun pagi ini. Ini juga yang selanjutnya membuat Siska merintih dan mengerang dalam usahanya mencapai kepuasannya.

Siska duduk di bawah pusarku sambil menggesekan pangkal pahanya maju mundur, mememuhi lubangnya dengan pusakaku. Dan Siska berulang-ulang memulainya lagi meskipun ia telah mencapainya berulang ulang.

Di pagi ini juga aku bisa memberitahu Siska melalui kemampuanku, jika aku bisa membantunya mencapai kenikmatan dan puncaknya berkali-kali sebanyak yang dia mau. Aliran darahku sedang lancar, konsentrasiku masih segar, nafasku dapat kuatur menjaga jantungku memompa tekakan darahku menstabilkannya. Selalu kupercepat gerakanku tuk menggetarkan lubang di bawah tubuh Siska, yang membuatnya senang menggelinjang mencapai kenikmatannya.

Hingga akhirnya Siska menyudahi ketagihannya, mencapai klimaks terakhinya saat di kamar mandi. Di depan tubuh Siska yang duduk di toilet itulah aku mengakhirinya. Kuhujamkan dengan cepat getaran pusakaku di pangkal pahanya yang terbuka lebar itu. Semprotan air hangat di shower yang kuarahkan ke bawah pusarnya membuatnya berteriak menggigil, bergoyang tubuhnya menggelepar, bergetar otot pahanya, tangannya dengan keras meremas pantatku. Kuakhiri juga nikmatku, mencapai kepuasanku dengan menyemburkan cairan energiku dalam lubang istimewa milik Siska yang terengah-engah.

Sudah berapa bulan aku melewatkan kesempatan seperti ini sejak betemu dan berkenalan dengannya? Kalau saja aku lebih sadar melihat peluang dan kesempatan.

Entahlah, tapi aku punya semangat hidup yang lebih tinggi lagi sekarang …

Comments are disabled
Rate this article