Pusat Berita yang Hoki Punya
Beritahoki.com
/ BERITA HOKI / Benarkah Orang Kaya Lebih Sulit Atasi Problem Asmara

Benarkah Orang Kaya Lebih Sulit Atasi Problem Asmara

Benarkah Orang Kaya Lebih Sulit Atasi Problem Asmara

Kita pasti pernah mendengar ungkapan yang menyebut “uang bisa membeli segalanya, tapi tidak kasih sayang.” Rupanya, ungkapan ini telah terbukti secara ilmiah.

Riset mengungkap, mereka yang memiliki banyak uang seringkali terkena masalah dalam hubungan asmara.

Menurut psikolog University Waterloo, Ontario, Kanada, orang dengan kelas sosial yang lebih tinggi memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk menangani konflik interpesonal.

Dilansir laman Alodokter, kecerdasan interpersonal ini berhubungan dengan keterampilan sosial.

Mereka yang mempunyai kecerdasan ini mampu bekerja, berinteraksi, dan berhubungan dengan orang lain.

Selain itu, orang dengan kecerdasan interpersonal juga memiliki memiliki banyak teman, menunjukkan empati kepada orang lain, serta sensitif terhadap perasaan, dan ide orang lain.

Periset percaya, mereka yang kurang memiliki keterampilan semacam ini -terlepas dari kenyataan bahwa orang kaya berpendidikan tinggi-, tidak memiliki kebijaksanaan mendalam yang dibutuhkan untuk merasakan empati dalam hubungan asmara.

Periset juga berpendapat, orang kaya kurang memiliki kemampun untuk mengenali fakta bahwa dunia mengalami fluktuasi.

Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk melihat perspektif yang berbeda dan tingkat kesederhaaan yang kurang.

Namun, riset lain dari University of California mengatakan, mereka yang memiliki penghasilan lebih tinggi ternyata memiliki emosi positif yang berfokus pada diri sendiri.

Sementara itu, mereka yang memiliki penghasilannya lebih rendah cenderung mengalami emosi positif yang fokus pada hubungannya dengan orang lain.

Dengan kata lain, periset dari University of California ini mengataka

Para psikolog percaya, individu kelas atas mungkin menikmati manfaat kognitif atas status sosial mereka, dan lingkungan mereka mungkin membatasi kemampuan atau motivasi untuk berpikir dengan bijak.

Sebaliknya, periset menemukan, orang yg berada dalam status sosial lebih rendah mungkin bisa membantu meningkatkan pemikiran yang lebih bijaksana.

Mereka mampu meningkatkan kewaspadaan, dan pengelolaan yang lebih baik, terkait ketidakpastian yang berhubungan dengan kondisi tersebut.

Untuk memastikan hal tersebut, para peneliti melakukan riset yang terbagi dalam dua cara.

Cara pertama dilakukan dengan sebuah survei online terhadap 2.145 orang dari berbagai latar belakang sosial ekonomi.

Mereka diminta untuk mengingat konflik yang baru saja mereka alami, entah dengan teman atau rekan kerja.

Kemudian, periset meminta mereka untuk menilai keterlibatan mereka dalam konflik tersebut.

Sementara itu, cara kedua dilakukan dengan wawancara langsung terhadap 299 orang di daerah Michigan yang berasal dari kelas sosial menengah ke bawah.

Mereka diminta untuk menilai sebuah surat yang berisi curahan hati seseorang terhadap masalah dalam kehidupannya.

Hasilnya, periset mengungkap, orang kaya memiliki nilai yang buruk mengenai ‘pemikiran bijaksana’.

Hal ini disebabkan karena orang kaya cenderung dikelilingi oleh orang kaya lainnya yang seringkali tidak menggantungkan kesuksesan pada kerja sama.

Dengan begitu, saat sedang terjadi konflik pada sebuah hubungan asmara, orang kaya cenderung tidak mengetahui cara mengatasinya, dan seringkali hanya mengatasinya dengan uang.

Comments are disabled
Rate this article